Minggu, Hari Raya Pentakosta

19 Mei 2024

Seperti biasa, misa jam enam pagi.  Selain udara masih sejuk, suasana di jalan juga masih sepi.  Hening.  Dan yang penting masih aman untuk urusan menyeberang jalan.  Kalau misa malam Minggu atau pun misa kedua di hari Minggu sepertinya hiruk pikuk sudah mulai merajalela, karena beberapa gereja yang letaknya berdekatan, jam ibadahnya juga ikut berdempet-dempetan. Hampir-hampir sama gitu. Itu sebabnya aku lebih suka ikut misa jam enam pagi biar bisa lebih menikmati suasana pagi.

Padahal kalau mau misa jam enam itu ribetnya lebih banyak.  Gimana nggak banyak.  Bangun harus subuh-subuh.  Jerang air, bikin kopi sekaligus mempersiapkan makan binatang peliharaan.  Kalau rasa-rasanya udara terasa dingin, lanjut dengan rebus air untuk mandi.  Harus duduk-duduk manis di dapur sembari nunggu.  Karena kalau duduk-duduk manis di kasur takutnya malah molor lagi.  Selesai mandi dan lain-lainnya masih harus mempersiapkan segala sesuatu supaya tidak ada yang lupa, karena minggu lalu lupa membawa buku lagu.  Ingatnya pas sudah mau masuk halaman gereja.  Jadi sepanjang misa hanya bisa ikut menyanyi lagu-lagu yang hafal doang dan sisanya hanya bisa ngangak-ngangak memandang dirigen di depan mimbar.

Puji Tuhan dapat Romo yang agak slebor.  Mimpin misa pakai sendal (bukan sepatu sandal), dan jeans belel nongol banyak di bawah jubah.  Bukannya mau komplain atau ngasih komentar julid ya.  Tapi di kota besar yang kanan kiri diapit negara maju ini, melihat romo mimpin misa seperti nggak mandi itu rasanya jadi menyesal sendiri gara-gara harus mandi pagi-pagi karena mau ikutan misa.  Mau muka ditutup masker kayak mana pun tetep saja kelihatan seperti nggak mandi sih menurutku.  Tapi ya sudahlah.  Anggap saja lagi misa di hutan pedalaman.  Yang memang kondisinya menuntut seperti itu.  Nanti mulut lancipku yang tujuh senti ini dianggap nggak ada sopan-sopannya pulak karena ngomentari penampilan romonya tercinta😁

Tiba-tiba iseng membayangkan ada umat yang komentar begini: "Bersyukur karena masih ada romo.  Ingat, masih banyak saudara-saudara kita di pedalaman yang tidak bisa ikut misa karena tidak ada romo!" 

Padahal kan nggak ada hubungan sama sekali misa yang kuikuti pagi ini dengan kondisi umat di pedalaman yang susah dapat romo.  Lha ini kan bukan karena nggak ada romo.  Ini karena penampilan romo yang memimpin misa 'terlalu' mbois.  Dan kebetulan aku nggak hobi duduk di bangku deretan belakang-belakang kalau misa.  Jadi  otomatis kemana mata memandang ya pasti mengarah ke depanlah.  Ke altar!  Lagipula mana mungkin sih aku nggak bersyukur.  Kalau nggak bersyukur pasti aku sudah balik badan dan pulang.

 

Tapi yang paling kusuka dari misa tadi pagi adalah, saat sebelum berkat penutup Romo bilang begini: "Helooo......ini bagaimana ini?  Saya kotbah cuman dua menit, baca pengumuman sepuluh menit sendiri!"  Padahal tadi kuitungin jamnya bukan sepuluh menit.  Hampir dua puluh menit malah.  Lebih lama baca pengumuman daripada kotbah.  Semua pengumuman, dari A sampai Z, dari yang penting sampai nggak penting, dibacakan di mimbar.  Padahal pengumuman itu nantinya juga bakal disebarkan di WAG lingkungan dan wilayah. Langsunglah aku lop yu sak kebon sama Romo itu yang berani komen💓

Menurutku, pengumuman yang dibacakan di gereja itu harusnya pengumuman yang penting-penting atau yang mendasar saja.  Sisanya ya cukup diumumkan di WAG, ditempelkan di papan pengumuman depan gereja, atau ditempel di depan sekretariat paroki.  Nggak perlu sampai harus berjam-jam semua dibacakan di depan.  Bukannya konsen yang ada malah bikin ngantuk.  Nanti kalau dikomplain dipikirnya umat nggak support, nggak mendukung.  Padahal memang nyebelin banget terpaksa harus mendengar pengumuman yang terlalu panjang.  Seolah-olah slogannya itu adalah "Kalau bisa dipanjang-panjangkan mengapa harus disingkat-singkatkan?" 😂

Begitulah!  Semoga karena ada romo yang komplain, bisa mewakili perasaanku selama ini dalam mendengarkan pengumuman di paroki yang terlalu berlebihan.  Dan semoga mulai ada orang yang memikirkan solusi, bagaimana di zaman canggih dan serba modern ini, yang hampir semua orang punya kuota untuk skrol tiktok, instagram dan pesbuk, pembacaan pengumuman di gereja bisa diketahui semua orang, tanpa harus berlama-lama dibacakan.  Mbok yao yang efektif dan efisien, Rek!

#utuslahRohMuyaTuhan
#danjadibaruseluruhmukabumi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS