Tampilkan postingan dengan label Faith. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Faith. Tampilkan semua postingan

Ziarah Porta Sancta (Bagian 4 - Selesai)

6 Nov 2025

Selesai memanjakan perut, panitia memberi waktu untuk istirahat sebentar.  Ada yang duduk-duduk saja di Pujasera seperti kami.  Ada yang lanjut belanja-belanja di Bugis pusat oleh-oleh murah. Agak bingung juga aku. Padahal waktu yang dikasih cuman 45 menit tapi masih sempat juga nenteng belanjaan sekarung.  Namanya juga mamak-mamak.  Asal ada kesempatan hajar...! πŸ˜‚

4.  Church of Divine Mercy

Perjalanan dilanjutkan menuju Church of Divine Mercy atau Gereja Kerahiman Ilahi.  Jarak dari tempat makan sekitar setengah jam.  Lumayan bisa dipakai merem sebentar di dalam bus. Gerejanya keren. Pengunjung disambut dengan lampion Yesus dalam ukuran besar di pintu masuk. 

Seperti biasa aku cari toilet dulu.  Biar konsen nanti doa-doanya.  Balik dari toilet sempat tertegun ketika melewati suatu sudut doa dengan patung keluarga kudus di dalamnya.  Mau foto-foto sudah tidak sempat lagi karena doa rosario Kerahiman Ilahi di dalam gereja sudah dimulai.  Selesai doa rosario ada satu sesi untuk berdoa secara pribadi di depan patung Yesus Sang Kerahiman Ilahi.  Sesudah itu dilanjutkan dengan foto bersama lagi.

Menurutku ini adalah gereja dengan salib Yesus paling keren yang pernah kulihat.   Dugaanku arsiteknya pasti adalah orang dengan pengalaman spriritual tinggi sehingga bisa membuat salib Yesus sekeren itu.  Memandangnya saja aku pengin menangis.  Salib, mahkota duri, dan Yesus yang merentangkan tangan seperti menyambut pulangnya anak yang hilang.  Sebanyak apapun dosamu, Tuhan selalu mengulurkan tangan, siapa memeluk dan memberikan pengampunan.  

Sayangnya ini acara bersama ya.  Jadi tidak bisalah kalau musti nangis-nangis kek orang baru putus dari pacar.  

5.  Cathedral of the Good Shepherd

Acara puncak dari ziarah adalah di gereja Katedral Gembala Baik.  Di situlah inti dari Porta Sancta kami.  Selesai mendaraskan doa-doa di luar gereja, kami masuk satu persatu ke dalam gereja dalam suasana hening sambil menyentuh pintu masuk gereja.  Lanjut lagi dengan doa dan foto bersama di dalam gereja.

Setelahnya kami dipersilahkan untuk mengikuti adorasi di ruang adorasi yang terletak di samping gereja.  Ruang adorasinya kecil jadi kami harus masuk bergantian.   Tetapi secara keseluruhan pengaturannya juga keren.  Suasana adorasi sangat terasa sekali karena masing-masing orang berusaha untuk menjaga keheningan.  

Selesai adorasi adalah acara bebas.  Foto-foto dong!  Baru sadar bahwa Katedral Gembala Baik terletak sangat dekat dengan Merlion Park, tempat singa muntah.  Kenapa dari kemarin-kemarin tidak kepikiran untuk mampir ya?  Padahal dekat banget.  Mungkin aura untuk pelesiran lebih kuat daripada untuk berdoa makanya tidak nyangkut sedikit pun di pikiran untuk mampir.

Selesai acara di Katedral, maka selesai pula acara peziarahan kali ini.  Lanjut dengan acara bebas sampai jadwal ferry balik ke Batam.  Kami diberi waktu untuk keliling Vivo dan Harbourfront sepuasnya.  Yang penting ingat saat pulang. Dah itu saja!

Aku, mbak Yudi dan Nadia tidak kepengin kemana-mana.  Hanya pengin ngopi.  Jadi sementara peserta yang lain mencari hiburan masing-masing, kami mencari tempat yang nyaman untuk ngopi.   Bosan ngopi jalan sebentar keliling pertokoan.  Bosan jalan lanjut duduk-duduk manis menikmati kegabutan menunggu saatnya pulang.

Secara pribadi, aku bersyukur bisa ikut acara seperti ini.  Minimal adalah pemanasan untuk jiwa-jiwa ringkih sepertiku yang hampir mati karena kekeringan panajang.  Berziarah mengenangkan perjalanan yang sering naik turun.  Merenungkan bahwa jika tidak ada campur tangan Tuhan aku mungkin sudah lama mati.

Ya Yesus Sang Kerahiman Ilahi, ampunilah dosa-dosa kami. Amin. 

Ziarah Porta Sancta (Bagian 3)

1 Nov 2025

Ini kemarin nulisnya agak terhambat karena ada panggilan telponan dari besti.  Dia curhatnya kelamaan sampai telingaku kepanasan.  Mau distop nggak enak karena nampak serius curhatnya.  Jadi meskipun hanya ah oh ah oh tetap kudengarkan sampai selesai mengeluarkan segala kesumpekan hidupnya.  Sesudahnya malah bisa ketawa-ketawa lagi dianya.  Tapi aku sudah terlanjur lupa mau nulis apa lagi.  Pada akhirnya ya hari inilah saatnya.

3.  St. Alfonsus Church (Novena Church)

Selesai acara di gereja Hati Kudus maka perjalanan selanjutnya  adalah menuju gereja Santo Alfonsus atau yang lebih dikenal dengan Novena Church. Mengapa disebut gereja Novena karena konon katanya banyak ujud-ujud doa yang terkabul di gereja ini lewat doa Novena. Kebetulan saat kami datang ada kegiatan ibadah semacam doa Novena untuk ujud permohonan secara khusus, yang diadakan setiap hari Sabtu jam 10 pagi.  

Gerejanya besar sekali.  Lebih besar dari gereja parokiku.  Dan umatnya pun membludak meskipun hanya doa Novena.  Full.   Karena agak terlambat masuk aku dapat kebagian tempat agak depan tapi yang tertutup tiang.  Penampakannya nanggung sekali.  Untung sound sistemnya bagus.  Jadi ritual yang dibawakan dalam bahasa Inggris bisa terdengar dengan jelas walaupun gerejanya segede gaban.

Selesai mendaraskan novena, lanjut doa di depan gua Maria yang masih dipimpin oleh Romo Aurel.  Suasana tetap khusuk meskipun berbaur dengan umat yang lain.  Yang menyenangkan itu kalau ibadah di Singapore kitanya itu ikutan anteng.  Lha kalau nggak anteng nanti masalah pulak di negara orang.  Coba kalau di negara sendiri, pasti sudah bising sendiri-sendiri.  Sibuk ngonten sendiri-sendiriπŸ˜‚

Sesudah doa, sebagian peserta lanjut lagi dengan eksistensi, foto-foto lagi.  Sebagian lagi sibuk mencari toilet karena tujuan selanjutnya adalah nyari tempat makan. Takutnya di Pujasera susah cari toilet.  Jadi saat ada kesempatan untuk ke toilet ya ke toilet.  Itu sebabnya aku ketinggalan sesi foto-foto bersama para pastor di gereja Novena karena sibuk dengan urusan pertoiletan.  Gak papalah, yang penting saat makan kandung kemih sudah ringan, sehingga bisa makan dengan tenang dan nyaman.

Puas foto-foto, lanjut ke Bugis Street.  Cari makan di Pujaseranya.  Ada yang nenteng kardusan sarapan pagi yang belum sempat dimakan.  Ada pula yang ngebet makan mie goreng dari awal.  Cita-citanya makan mie goreng atau mie kuah biar nanti nggak nyesel kalau waktunya pulang. 


Dan memang begitulah.  Pesen mie goreng dengan bahasa tarzan.  Tunjuk gambar, bilang sesuai nomor yang tertera, berapa jumlah yang ingin dipesan, bayar.  Selesai!  Cara ini lebih efektif daripada mikir pesennya dalam bahasa Inggris kek mana.  Kelamaan!  Untuk yang gampang lapar kayak aku ini nanti malah emosi duluan. Mending main tunjuk-tunjuk gambar dan taraaa.......makan kita!

Piringnya modelan wajan dalam bentuk kecil kayak mainan masak-masakan.  Saat pesan harus ditunggu dan diangkat sendiri, selesai makan juga harus dibereskan sendiri.  Pokoknya nggak adalah urusan teriak-teriak ke yang punya warung untuk bantu-bantu beresin.  Makan-makan sendiri ya beres-beresin sendiri.  Mau pesan apa saja terserah. Yang penting aturannya kek gitu ya kek gitulah yang harus diikuti.

(Bersambung) 

Ziarah Porta Sancta (Bagian 2)

30 Okt 2025

Jadi ziarah kali ini dimulai dengan foto-foto dulu di Harbour Front Centre bersama peserta yang lain dari berbagai paroki yang ada di Batam dan Bintan.  Nasib jadi orang 'semampai', mau foto paling depan pun tetap saja yang muncul mukanya hanya secuil.  Terima nasib sajalah.  Namanya juga produk kurang gizi dari jaman purbaπŸ˜‚

1.  Church of the Holy Spirit

Kalau tidak salah, di brosur disebutkan kalau kunjungan pertama itu seharusnya ke Blessed Sacrament Church.  Ternyata pindah haluan ke Church of the Holy Spirit.  Ya nggak papa sih.  Kita kan hanya mengikuti instruksi.  Yang penting tujuan ziarahnya terpenuhi, itu sudah cukuplah buat saya.  

Rencananya acara akan dimulai dengan mengadakan misa pembukaan di sini. Tetapi karena ada umat yang sedang menerimakan sakramen perkawinan di bangunan utama,  terpaksa misa diadakan di dalam kapel, yang ternyata dinginnya minta ampun.  AC-nya maut, Rek! Uademm pol!  Untung saya sempat mengambil jaket saat keluar bus.  Yang lain pada kedinginan sayanya malah bisa santai-sntai sambil nyanyi lagu-lagu misa dengan semangatπŸ˜‚

Karena Romo pendamping tidak boleh memimpin misa, maka panitia minta tolong salah satu romo dari Novena Church untuk membantu memimpin misa.  Kalau nggak salah namanya Romo Sixtus dari Lembata.  Kalau dibilang dari Lembata itu sudah bisalah ya dikira-kira bagaimana bentukan romonya.  Nggak perlu dijelaskan lagi kayaknya.  Peace RomoπŸ™πŸ˜

Misa berjalan dengan khusuk karena diadakan dalam bahasa Indonesia.  Kalau dibawakan dalam bahasa Inggris takutnya khusuk kagak mumet iya. Kotbahnya pun singkat, padat dan jelas.  Intinya adalah bahwa setiap manusia punya kesempatan untuk bertobat, jadi pergunakanlah sebaik-baiknya selagi sempat.  

Sesudah misa, lanjut acara 'pertoiletan' dan foto-foto lagi.  Ada foto sendiri-sendiri, ada juga sesi foto bersama.  Pokoknya semua wajah yang tadinya bangun kepagian terlihat bahagia.  Saya yang sebelumnya menguap terus mulai di ferry sampai di bus juga mulai kehilangan aura kantuknya.  Semangat foto, semangat ke toilet.  Berusaha menikmati setiap acara yang disajikan oleh panitia dengan gembira.  

Semangat!!

 2.  Church of the Sacred Heart

Selesai dari Church of the Holy Spirit lanjut tujuan berikutnya, Church of the Sacred Heart.  Rupanya pas ada acara mantenan juga.  Tapi karena acaranya sudah selesai maka kami diberi izin untuk masuk dan berdoa di dalam gereja.  Semua masuk ke dalam gereja dengan tertib dan tenang karena ada beberapa doa dari buku panduan yang akan kami daraskan.  
 
Dipimpin oleh Romo Aurel, doa-doa berhasil dipanjatkan.  Meskipun waktunya sangat singkat karena gereja akan dipergunakan untuk kegiatan selanjutnya oleh beberapa umat lokal, tetapi tidak mengurangi kekhusukan dalam melantunkan segala wujud doa dan permohonan.  Semua terlihat tenang dan tertib.  Kalau pun ada yang ngonten pasti dilakukan secara sembunyi-sembunyi.  Soalnya nggak enak saja sama yang lain.  Masak Romo sibuk memimpin doa kita sibuk ngonten? 
 
Berdoa selesai lanjut foto-foto lagi.  Kali ini sesi foto sendiri-sendiri kayaknya.  Lha waktunya harus segera mengejar tujuan selanjutnya.  Jadi yang sempat foto ya lanjut foto dulu, yang nggak sempat foto ya lanjut masuk bus.  Pokoknya dibikin senang diri sendirilah biar nggak capek.  Biar pun cuman naik turun bus capek juga loh rasanya.  Maklum, yang ikut ziarah rata-rata sudah senior.  Jadi ya memang tidak bisa lincah-lincah lagi kayak jaman waktu masih mudalah πŸ˜‚πŸ˜‚
 
Baru juga dua gereja perut sudah bunyi-bunyi.  Untung masih ada snack sarapan pagi yang belum sempat kemakan.  Meskipun sudah diinfokan untuk tidak makan-makan di dalam bus, tetapi saya tetap makan dengan diam-diam karena lapar. Yang penting segala macam remah-remah tidak mengotori bus.  Wajib dijaga sendirilah biar tidak bikin masalah di negara orang.  Makan diam-diam, ngelap mulut diam-diam, buang sampah diam-diam.  Bersyukur juga dapat tempat duduk paling belakang.  Minimal bisa sembunyikan mulut yang sedang mengunyah supaya tidak ketahuan.  Intinya itu jaga kebersihan deh!
 
Kali ini ceritanya tentang dua gereja dulu ya.  Nanti sambungannya lihat saja di Bagian 3.  Boyok saya sudah pegel-pegel jadi nggak bisa langsung dituliskan sekaligus.  Biar nggak terlalu panjang juga ceritanya, ye kan?!  πŸ˜‡
 
(Bersambung)

 

Sang Pendosa Mencari Tuhan

2 Jun 2025

 ============================================================================

Yoh 16:29Kata murid-murid-Nya: "Lihat, sekarang Engkau terus terang berkata-kata dan Engkau tidak memakai kiasan.

Yoh 16:30Sekarang kami tahu, bahwa Engkau mengetahui segala sesuatu dan tidak perlu orang bertanya kepada-Mu. Karena itu kami percaya, bahwa Engkau datang dari Allah."

Yoh 16:31Jawab Yesus kepada mereka: "Percayakah kamu sekarang?

Yoh 16:32Lihat, saatnya datang, bahkan sudah datang, bahwa kamu diceraiberaikan masing-masing ke tempatnya sendiri dan kamu meninggalkan Aku seorang diri. Namun Aku tidak seorang diri, sebab Bapa menyertai Aku.

Yoh 16:33Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia."

 ============================================================================

Setelah 30 tahun lebih tidak pernah mengikuti misa harian di pagi hari, akhirnya kesampaian juga ikut misa di Jogja.  Tiba-tiba saja pengin.  Kemarin-kemarin tidak sempat karena memang alasan pekerjaan.  Kemarin-kemarinnya lagi juga tidak sempat karena berbagai macam alasan.  Tapi di antara semua itu alasan yang paling utama hanya satu, yaitu MALAS 😁

Ikut misa harian lagi setelah bertahun-tahun tidak pernah pergi sebenarnya adalah tantangan tersendiri bagiku.  Niat bangun pagi antara mau pergi dan iya itu rasanya gimana gitu.  Nggak jelas!  Apalagi misa harian di Jogja biasanya dimulai jam setengah enam pagi. Kalau ikut misa berarti masak harus buru-buru.  Belum lagi malas membayangkan harus mandi subuh-subuh.  Tapi ya namanya sudah terlanjur niat makanya harus dilaksanakan.  Biar matanya tidak bintitan karena berubah-ubah niatnya.

Karena gereja paling dekat dengan rumah adalah Gereja St. Fransiskus Xaverius Kidul Loji, aku ikut misanya ya di situ.  Jalan kaki tidak sampai dua puluh menit sudah sampai gereja. Gerejanya besar dan adem.  Misanya cepet selesai dan kotbahnya pun tidak bertele-tele.  Dan asyiknya lagi koor selalu ada.  Mau cuman dua biji atau empat biji manusia, tetap adalah yang namanya lagu-lagu.  Lha microphonenya saja banyak.  Beda dengan parokiku tercinta yang microphone untuk koor baru keluar hanya pada Natal dan Paska.  Makanya kalau menyanyi terbiasa seperti orang menjerit-jerit.  Takut tidak kedengaran sama orang yang di luar gereja πŸ˜‚

Sama dengan paroki lain pada umumnya, misa harian tentu saja tidak sepadat misa hari Sabtu atau Minggu.  Duduk umat pun mencar-mencar.  Jadi gereja yang besar tetap saja seperti kekurangan isi meskipun ada yang ikut misa.  Masalahnya mau duduk di mana saja romo ya oke-oke saja.  Yang penting ada orang di dalam gereja.  Mau duduk di bangku depan, di tengah atau di belakang tidak masalah.  Tidak akan disuruh-suruh pindah ke depan untuk mengisi bangku yang kosong.  

Pertama ikut misa harian aku permisi dulu sama Dia yang tergantung di salib,"Tuhan, beri aku kesempatan untuk percaya lagi!"

Seperti waktu yang dulu-dulu, aku selalu senang datang lebih awal sebelum misa dimulai.  Saat bangku-bangku belum banyak terisi.  Saat suara angin dan nafas diri bahkan bisa terdengar sampai ke relung hati.  Bisa duduk diam dalam keheningan terasa menyejukkan jiwa.  Meditasi, kontemplasi, apalah namanya itu.  Yang jelas di bawah pandangan salib Tuhan aku mencoba untuk berbenah diri.  Mencoba menyadari bahwa hidup tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.  Mencoba mengerti bahwa dalam pergumulan harus selalu ada pengharapan.  

Dan sama seperti yang Ia tanyakan kepada para muridNya, Yesus bertanya balik kepadaku," "Percayakah kamu sekarang?" 

Rabu Abu, 5 Februari 2025

7 Mar 2025

 

 ===============

Mat 6:1"Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga.

Mat 6:2Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.

Mat 6:3Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu.

Mat 6:4Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu."

Mat 6:5"Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.

Mat 6:6Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.


Mat 6:16"Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.

Mat 6:17Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu,

Mat 6:18supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu."

 ==================================

Pernahkah kamu merasa, ketika tiba-tiba jenuh dengan segala sesuatu dan ingin menghilang sejenak dari hidupmu?  Pernahkah kamu merasa, ketika  hati tiba-tiba seperti tertindih batu, dan engkau dengan susah payah ingin menghempaskannya?  Pernahkah kamu merasa, ketika tiba-tiba seolah hilang segala indra, dan hanya ingin tenggelam dalam keheningan nyata?

Rabu Abu yang selalu melow.  Selalu menimbulkan daya magis untuk mencari dan mencari arti diri yang sesungguhnya masih meragu.  Untuk siapakah aku berpuasa, dan untuk apa?  Mengapa aku berpuasa dan apakah memang demikian adanya?  Jika aku berpuasa untuk menyenangkan egoku, atau sekedar demi memenuhi kewajiban agamaku, lantas apa gunanya aku berpuasa?  Bukankah berpuasa harusnya muncul dari hati yang mencinta?  Karena aku mencintaiMu maka aku mengakui salahku dengan menjalani puasa dan pantang, supaya aku bisa semakin  mencintaiMu dalam diri sesama yang ada di sekitarku.

Dua hari yang lalu aku mengikuti misa Rabu Abu di paroki. Misa yang menurutku sedikit menjadi agak dramatis akibat kurangnya persiapan yang memadai.  Jumlah umat yang membludak tidak diimbangi dengan jumlah kursi yang tersedia sehingga banyak umat yang harus berdiri sepanjang misa.  Belum lagi ada beberapa petugas liturgi yang sepertinya asal-asalan dalam mempersiapkan diri.  Mungkin karena dipikir hanya sekedar misa Rabu Abu sehingga tidak perlu totalitas yang tinggi.  Misa yang harusnya berlangsung dengan penuh khidmat akhirnya harus diselingi dengan banyak gerutu.  Dan pada akhirnya aku malah jadi terlihat seperti orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang hobinya mengritik kekurangan orang lain dalam topeng kesucian palsu.  Rabu Abu seolah hanya menjadi ritual basa basi dari waktu ke waktu.

Aku pulang dengan membawa berjuta pertanyaan berkecamuk di kepala. Dan kepala kosong itu menjadi penuh saat menuntut jawaban utuh.  Apakah puasa dan pantang dilakukan hanya untuk mendapatkan pahala?  Apakah puasa dan pantang dilakukan hanya supaya doa-doa dikabulkan?  Apakah puasa dan pantang dilakukan hanya untuk sekedar ikut-ikutan?  Apakah puasa dan pantang dilakukan hanya sekedar untuk menyenangkan Tuhan?  Apakah Tuhan butuh disenangkan?  Mengapa Tuhan butuh untuk disenangkan?  Bukankah Tuhan adalah Yang Maha Besar dan Maha Tahu?  Terkenang kata seorang Romo dalam kotbahnya di Jogja waktu itu.  Puasa dan pantang tanpa disertai dengan pertobatan adalah sia-sia.  Pertobatan tanpa disertai aksi nyata juga demikian adanya. Semuanya adalah sia-sia.  Dan hanya akan menjadi kesia-siaan semata.

Perubahan hidup, meskipun terlihat kecil dan tidak berarti, tetap adalah perubahan.  Intinya adalah, beranikah aku untuk berubah?  Berubah dari hal yang tidak baik menuju kepada hal-hal yang baik.  Berpuasa dan berpantang bukan karena kewajiban.  Bukan karena ikut-ikutan dan ingin dilihat orang.  Bukan karena mengharap imbalan.  Tetapi berpuasa dan berpantang karena cinta.  Karena cinta aku ingin berubah. Karena cinta aku rela berkurban dan berderma.  Karena cinta aku ingin puasa dan pantangku menjadi indah.  

Semoga Rabu Abu tahun ini, menjadi awal untuk kembali menata hati.  Amin.

Lord Have Mercy On Me (2)

24 Okt 2024

Foto diambil dari Pexel

 

Yang paling membosankan kalau mengikuti pertemuan doa di lingkungan dengan menggunakan tema atau materi yang sudah ditentukan itu adalah cara penyampaiannya yang bertele-tele.  Meskipun sebenarnya bisa dibikin singkat tapi seringkali malah dipanjang-panjangkan biar kesannya terasa lama.  Normalnya doa lingkungan atau doa komunitas yang ideal itu menurutku ya satu setengah jam.  Dua jam itu sudah terlalu lama.  Apalagi sampai tiga setengah jam.  Itu namanya lama banget.

Di Batam doa kumunitas atau lingkungan biasanya diadakan setiap hari Rabu, dimulai antara jam tujuh atau jam delapan malam.  Alasannya karena menyesuaikan dengan kondisi umat yang mayoritas adalah pekerja.  Banyak di antara mereka yang jam enam atau tujuh malam baru keluar dari kantor atau perusahaan.  Kalau doa lingkungan di mulai jam delapan malam minimal mereka masih bisa mengejar waktu untuk bisa berkumpul bersama saudara seiman.

Yang jadi masalah itu kalau doa lingkungan yang seharusnya bisa dibikin cepat ringkas dan padat malah dibawakan dengan panjang lebar dan bertele-tele kemana-mana.  Umat yang ikut doa sepulang kerja bukannya tambah segar malah jadi tambah ngantuk.  Capeknya sungguh sangat terasa.  Awalnya ingin mendapat 'pencerahan' dalam pertemuan yang ada malah dapat zonk semata.  Masuk telinga kanan keluar telinga kiri.  Berharap pertemuan cepat selesai!

Foto diambil dari Pexel

Memang tidak semua lingkungan atau komunitas mengalami hal seperti itu.  Tapi tidak menutup kemungkinan ada paroki yang komunitasnya memang seperti itu.  Seharusnya setiap pemimpin dalam pertemuan doa komunitas bisa bersikap fleksibel dalam melakukan tugasnya.  Harus ingat bahwa umat yang hadir itu sudah bersusah payah untuk meluangkan waktu dalam pertemuan sementara besoknya masih harus bekerja atau sekolah.  Harus ingat bahwa mamak-mamak yang ikut dalam pertemuan sambil menggendong bayi itu kebanyakan sudah menguap berkali-kali sembari berharap doa cepat selesai. 

Tapi mau bagaimana lagi, ye kan?  Ada manusia yang  hobinya memang bicara panjang lebar supaya dilihat orang.  Dengan bicara panjang lebar ia merasa dirinya penting.  Merasa dibutuhkan.  Merasa smart.  Merasa berharga.  Merasa yang lain itu hanya umat yang otaknya biasa-biasa saja.  Jadi semakin lama pertemuan akan semakin puaslah mereka.  Intinya itu kalau segala sesuatu itu bisa dipanjang-panjangkan waktunya mengapa harus disingkat-singkatkan begitulah kira-kira.  

Foto diambil dari Pexel

Jadi itulah salah satu alasanku mengapa kadang bolong-bolong ikut pertemuan.  Baru membayangkan saja sudah mager.   Males Gerak!  Kalau doa mulai jam tujuh tiga puluh malam nanti baru bisa pulang jam sepuluh tiga puluh malam.  Tiga jam!  Coba bayangkan, tiga jam! Kalau mulainya jam delapan malam malah bisa pulang jam sebelas malam.  Lagi-lagi tiga jam.  Biasanya sampai rumah langsung terkapar.  Alamat besoknya bangun kesiangan.  Aku sih bisa tidur lagi setelah tidak bekerja.  Tetapi Pak DjokoWi selalu pontang-panting karena harus berangkat kerja jam enam pagi.

Semoga para pemimpin dalam pertemuan doa komunitas mendapatkan pencerahan dari Roh Kudus supaya bisa mengurangi nafsu 'bicara'nya yang sering kemana-mana. Bicaralah seperlunya sesuai dengan kapasitas yang seharusnya.  Kalau materi atau temanya tentang A ya fokus saja bicara tentang A.  Jangan nambah-nambahin sendiri menjadi A plus atau A minus.  Ingatlah bahwa besoknya ada banyak anggota yang harus pergi bekerja.  Semoga para pemimpin mendapat pencerahan untuk bisa melayani tanpa pamrih.  Dan semoga aku bisa menjadi umat yang tidak mageran lagi.  Amin.

Lord Have Mercy On Me (1)

18 Okt 2024

Pernah nggak sih ketemu dengan seseorang yang semua-mua pengin ikut kegiatan gereja, terus giliran dapat kesempatan malah jadi sering sensi, jadi baper.  Ngamukan!  Lha, kan yang minta sibuk dirinya sendiri?  Terus kalau orang lain nggak respon marah-marah sendiri.  Dianggapnya orang yang nggak respon itu nggak mendukung aksinya aktif terlibat dalam kegiatan gereja.  Terus under estimate.  Curiga-curiga nggak jelas.  Pengin exist tapi cari kawan.

Ada juga orang yang modelannya sok-sok merendah hati, sok-sok bukan siapa-siapa gitu.  Selalu bersabda, eh, berkata kalau dirinya bukan siapa-siapa.  Bukan orang hebat.  Bukan orang sombong.  Bukan orang yang suka pamer. Dan sebagainya dan sebagainya.  Tetapi sepanjang perngobrolan dengan dia dari awal sampai akhir isinya selalu menceritakan tentang kehebatannya, keaktifannya, keterlibatannya dalam semua kegiatan.  Pokoknya dia saja yang maha penting.  Terus dibilangnya orang yang nggak mau aktif dan terlibat dalam kegiatan gereja itu orang berdosa dan bakal masuk neraka.  Padahal dia mati pun belum pernah.  Bisa-bisanya menghakimi orang lain dengan surga dan neraka😁

Kalau dulu ketemu orang modelan kek gini aku pasti langsung sewot.  Langsung tersulut emosi.  Langsung jidatku berkerut dan 'moncong'ku maju tujuh senti.  Sebel!  Pengin nanggepi secepat kilat.  Tapi sekarang ini aku memilih untuk diam saja.  No komen.    Hanya memandangi orang itu dengan wajah tanpa ekspresi.  Pikiranku datar.  Hatiku juga demikian.  Hanya tenang diam.  Nggak mau ngomentari apapun yang dikatakannya.  Seandainya dia ngomong dua kali dua sama dengan delapan pun aku akan diam.  Atau seandainya dia ngomong bumi ini persegi panjang pun aku juga akan tetap diam.  Suka-suka kau sajalah.  Sak karepmu!

Saat ini aku sudah sepakat sama suami untuk belajar hidup dengan tenang diam.  Belajar slow living.  Belajar menjalani hidup ini tanpa perlu menyibukkan diri dengan hal-hal nggak penting.  Belajar untuk tidak meributkan atau meribetkan segala hal.  Salah satunya ya diam saja dalam menghadapi orang-orang seperti tipe-tipe di atas.  Nggak tak reken wes!  Sekarang ini penginnya selow saja jadi manusia.  Bergerak dalam diam.  Diam-diam memberi sumbangan.  Diam-diam mengulurkan bantuan.  Diam-diam memberikan dukungan.  Diam-diam membagikan penghiburan.  Dimintain tolong is oke.  Gak diajak apa pun ya nggak masalah.

Hidup ini singkat.  Kita tidak pernah tahu sampai kapan masih punya kesempatan.  Setahun lagi, lima tahun lagi, atau sepuluh tahun lagi?  Seandainya masih hidup lima belas tahun lagi itu pasti sudah hebat kali.  Jadi untuk apa menyusahkan diri sendiri dengan hal-hal yang bisa membuat tensi tinggi?  Kalau bisa hepi sekarang mengapa harus tunggu nanti?  Jangan terlalu dipikirkan masalah surga dan neraka.  Itu urusan Tuhan.  Bukan manusia yang bisa menentukan seseorang akan masuk surga atau neraka.  Selagi berusaha untuk hidup baik, banyak-banyak melakukan hal positif, maka surga dunia sudah pasti ada dalam genggaman tangan.  Tinggal nunggu mati saja untuk bisa sampai ke surga sesungguhnya.  Kalau nantinya ternyata masuk neraka ya apa boleh buat ya kan?  Toh tetap harus menunggu saat mati untuk bisa tahu jawaban yang sebenarnya.

#lordhavemercyonme

Hari Minggu Biasa Ke XXVIII

15 Okt 2024

Mrk 10:17Pada waktu Yesus berangkat untuk meneruskan perjalanan-Nya, datanglah seorang berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil bertelut di hadapan-Nya ia bertanya: "Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?"

Mrk 10:18Jawab Yesus: "Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja.

Mrk 10:19Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!"

Mrk 10:20Lalu kata orang itu kepada-Nya: "Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku."

Mrk 10:21Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: "Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku."

Mrk 10:22Mendengar perkataan itu ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya.

Mrk 10:23Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya di sekeliling-Nya dan berkata kepada mereka: "Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah."

Mrk 10:24Murid-murid-Nya tercengang mendengar perkataan-Nya itu. Tetapi Yesus menyambung lagi: "Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah.

Mrk 10:25Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah."

Mrk 10:26Mereka makin gempar dan berkata seorang kepada yang lain: "Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?"

Mrk 10:27Yesus memandang mereka dan berkata: "Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah."

 =================================================================================================

Hari Minggu kemarin mulai ikut misa yang jam enam pagi lagi.  Dua minggu sebelumnya berturut-turut ikut misa yang malam minggu karena selain pas ada tugas, juga pas pengin saja ikut misa malam minggu.  Besoknya pengin bangun siang.

Seperti biasa, aku dan suami menyempatkan ngobrol tipis-tipis ketika pulang misa.  Saat itu tiba-tiba yang terpikir adalah tentang ayat ini,"Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: "Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku" (Mrk.10:21).  

"Siapa sih sebenarnya yang dimaksud orang miskin dalam bacaan tadi? Coba kita renungkan baik-baik!" aku mulai ceramah. "Orang yang betul-betul tidak berdaya, tidak punya dan tidak bisa apa-apa, atau orang yang memang penginnya jadi miskin alias yang bermental miskin?!" Pak DjokoWi diam saja.  Konsentrasi ke jalan karena sedang nyetir.  

"Aku kok agak kurang setuju ya dengan sabda Yesus tadi.  Mosok kita susah payah cari duit, terus pas giliran punya duit disuruh jual semuanya dan dibagikan kepada orang-orang miskin hanya demi kerajaan sorga?  Mosok sih seperti itu?" aku melanjutkan lagi.

"Ya mungkin maksudnya supaya kita bisa menggunakan duit kita dengan lebih bijak.  Tidak dihambur-hamburkan untuk hal yang tidak perlu.  Bijak dalam arti kita tahu kapan harus memberi dan berbagi dan kapan yang tidak," Pak DjokoWi menimpali sedikit.

"Iya sih, cuman rasanya kok agak gimana gitu ya.  Kalau misalnya kita berduit, terus punya keinginan untuk ikut Yesus, tapi dikasih persyaratan seperti itu, bagaimana menurutmu?" aku masih ngeyel.

Yang ditanya hanya manggut-manggut,"Mbuh!  Ayo kita pikir di rumah sambil ngopi!," ia terkekeh. "Serius banget nanggepin Injil hari ini!" Akhirnya ngobrol-ngobrolnya pun dilanjutkan di dapur sambil ngopi.  Sekalian sarapan BKP (Babi Karo Panggang)  yang sebelumnya dibeli dalam perjalanan pulang.

"Jadi begini ya, mungkin Yesus itu penginnya para pengikutNya itu tidak kemaruk.  Tidak serakah, sampai harus menghalalkan segala cara demi mencapai tujuannya!" Pak DjokoWi mencoba mengeluarkan pendapatnya.  "Bukan tidak boleh kaya ya, tetapi sepertinya  Yesus ingin agar setiap orang yang hendak mengikuti dia itu tidak kedonyan.  Tidak terikat harta duniawi.  Bebas dari segala keterikatan yang menghambat untuk bisa sampai kepadaNya."

"Begitu ya?  Terus balik lagi ke pertanyaan awal.  Siapa yang dimaksud dengan orang miskinnya?  Karena ada juga loh orang yang sebenarnya sengaja menjadikan dirinya miskin.  Mentalnya dibuat miskin.  Sengaja bermental miskin.  Dia sebenarnya bisa untuk tidak menjadi miskin dengan bekerja.  Tetapi dia lebih suka dibantu dan menerima sumbangan.  Lebih suka meminta-minta daripada bersusah payah.  Menurut mereka orang kaya wajib membantu orang miskin seperti mereka.  Padahal mereka saja yang tidak mau berusaha," aku nyerocos terus.

"Nah itulah sebabnya Yesus meminta kita untuk menjadi lebih bijak.  Kalau kebetulan berduit, tetap  harus tahu mana yang perlu dibantu dan mana yang tidak.  Kalau kebetulan tidak punya duit ya jangan hanya bisa ngemis-ngemis minta duit ke orang lain tanpa berupaya.  Tanpa bekerja.  Ingat ya, orang yang kaya pun mereka pastinya sudah menempuh perjuangan panjang untuk bisa sampai ke titik itu.  Tidak mungkin seseorang ujug-ujug jadi kaya begitu saja tanpa berusaha.  Kecuali dia dapat warisan bermilyar-milyar ya,"Pak DjokoWi nambahin lagi. 

Intinya dari percakapan pagi itu bisa kusimpulkan begini.  Tetaplah berusaha untuk mencari duit sebanyak-banyaknya tanpa harus punya ketergantungan atasnya.  Kalau terlalu ketergantungan maka kemungkinan untuk khilaf itu akan lebih besar.  Jadilah kaya tanpa serakah.  Carilah duit tanpa harus lupa kapan waktunya untuk ke gereja. Tetap luangkan waktu untuk berterima kasih atas setiap kesempatan yang ada.

Uang memang bukan segala-galanya.  Iya betul!  Itu kalau uangnya sedikit!  Kalau uangmu banyak, kamu akan bisa melakukan banyak hal.  Bisa membantumu jadi orang yang lebih murah hati kepada orang lain. Bisa membuatmu jadi lebih berempati akan penderitaan sesama di sekitar.  Bisa lebih mudah "memandang" Yesus dalam keseharian.  Pokoknya bisa lebih leluasa untuk melakukan kebaikan seperti yang Ia perintahkan.  Jadi, tetaplah berusaha untuk jadi kaya tanpa harus kedonyan! Tetap berusaha untuk hidup baik tanpa perlu disombongkan.  Apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah!

#cintaakanrumahMumenghanguskanaku

Tuhan Adalah Gembalaku

21 Agu 2024

 ======================================================================================================

Yeh 34:1Lalu datanglah firman TUHAN kepadaku:

Yeh 34:2"Hai anak manusia, bernubuatlah melawan gembala-gembala Israel, bernubuatlah dan katakanlah kepada mereka, kepada gembala-gembala itu: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Celakalah gembala-gembala Israel, yang menggembalakan dirinya sendiri! Bukankah domba-domba yang seharusnya digembalakan oleh gembala-gembala itu?

Yeh 34:3Kamu menikmati susunya, dari bulunya kamu buat pakaian, yang gemuk kamu sembelih, tetapi domba-domba itu sendiri tidak kamu gembalakan.

Yeh 34:4Yang lemah tidak kamu kuatkan, yang sakit tidak kamu obati, yang luka tidak kamu balut, yang tersesat tidak kamu bawa pulang, yang hilang tidak kamu cari, melainkan kamu injak-injak mereka dengan kekerasan dan kekejaman.

Yeh 34:5Dengan demikian mereka berserak, oleh karena gembala tidak ada, dan mereka menjadi makanan bagi segala binatang di hutan. Domba-domba-Ku berserak

Yeh 34:6dan tersesat di semua gunung dan di semua bukit yang tinggi; ya, di seluruh tanah itu domba-domba-Ku berserak, tanpa seorangpun yang memperhatikan atau yang mencarinya.

Yeh 34:7Oleh sebab itu, hai gembala-gembala, dengarlah firman TUHAN:

Yeh 34:8Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, sesungguhnya oleh karena domba-domba-Ku menjadi mangsa dan menjadi makanan bagi segala binatang di hutan, lantaran yang menggembalakannya tidak ada, oleh sebab gembala-gembala-Ku tidak memperhatikan domba-domba-Ku, melainkan mereka itu menggembalakan dirinya sendiri, tetapi domba-domba-Ku tidak digembalakannya?

Yeh 34:9oleh karena itu, hai gembala-gembala, dengarlah firman TUHAN:

Yeh 34:10Beginilah firman Tuhan ALLAH: Aku sendiri akan menjadi lawan gembala-gembala itu dan Aku akan menuntut kembali domba-domba-Ku dari mereka dan akan memberhentikan mereka menggembalakan domba-domba-Ku. Gembala-gembala itu tidak akan terus lagi menggembalakan dirinya sendiri; Aku akan melepaskan domba-domba-Ku dari mulut mereka, sehingga tidak terus lagi menjadi makanannya.

Yeh 34:11Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH: Dengan sesungguhnya Aku sendiri akan memperhatikan domba-domba-Ku dan akan mencarinya.
======================================================================================================

Sebelum melanjutkan menulis ingin kutekankan bahwa bacaan di atas kuambil bukan untuk ngomentari atau nyinyiri gembala tertentu yang 'terlihat' lebih senang menggembalakan dirinya sendiri daripada menggembalakan domba-dombanya.  Seandainya memang ada gembala seperti itu di dunia nyata, tetapi tetap saja masih akan ada gembala yang memang dari sononya berkarakter gembala beneran.  Aku nyomot bacaan tersebut karena senang saja.  Bukan niat mau nyindir.  Apalagi nyinyir.  Nggaklah!  Takut dikutuk jadi batu!😁 

By the way, dari bacaan di atas terus terang ada dua ayat yang mengusikku.  Meskipun tidak ingin berkomentar, tetapi menurutku dua ayat tersebut sangat relevan dengan kondisi di zaman sekarang. "Kamu menikmati susunya, dari bulunya kamu buat pakaian, yang gemuk kamu sembelih, tetapi domba-domba itu sendiri tidak kamu gembalakan. Yang lemah tidak kamu kuatkan, yang sakit tidak kamu obati, yang luka tidak kamu balut, yang tersesat tidak kamu bawa pulang, yang hilang tidak kamu cari, melainkan kamu injak-injak mereka dengan kekerasan dan kekejaman."

Adakah gembala yang seperti itu?  Ada!  Banyak!  Gembala yang hanya tahu disenangkan oleh domba-dombanya tetapi payah dalam urusan pelayanan.  Gembala yang hanya tahu menerima tapi lupa untuk memberi.  Gembala yang hanya menunggu dicari-cari tetapi hilang minat menemukan domba yang tersesat.  Gembala yang hanya ingin hidup mewah sampai lupa bagaimana caranya hidup bersahaja .  Gembala yang seolah-olah antara ada dan tiada.  Gembala yang sukanya main gep-gepan dan membuat para domba terpecah belah. Adakah gembala yang tidak seperti itu?  Ada!  Banyak juga!  Meskipun mungkin sudah tidak sebanyak dulu.

By the way, lupakan ayat di atas.  Lupakan juga kenyinyiranku yang ternyata terlempar keluar.  Ayo pindah  topik daripada nanti melebar kemana-mana πŸ˜‚

 

Tiba-tiba aku ingat seorang gembala nun jauh di sana, yang pernah hidup dua ribu tahun yang lalu.  Gembala yang dengan penuh sukacita menikmati perannya sebagai seorang gembala sesungguhnya.  Gembala yang rela meninggalkan domba-domba lain yang tidak tersesat, demi mencari satu ekor domba yang hilang arah.  Gembala yang tahu melakukan tugasnya tanpa butuh pengakuan dari mana-mana.  Gembala yang tidak egois dan hanya memikirkan diri sendiri.  Gembala yang rela mempertaruhkan nyawa demi keselamatan para domba.

Aku duduk dalam diam.  Mencoba memandang lalu lalang kebisingan.  Berharap menemukan Sang Gembala dalam jiwa yang kering kerontang.  Berharap mendengarkan suaraNya memanggilku pulang.  Atau....apakah memang aku yang sebenarnya sengaja menulikan telinga?  Sibuk menyembunyikan diri supaya tidak ditemukan?  Aku sungguh tidak tahu.  Yang kutahu adalah, aku sedang berusaha memerdekakan rasa.  Merdeka untuk mencinta.  Merdeka untuk mencari jalan pulang. Merdeka menentukan pilihan.  Merdeka dari penghakiman.  

Saat ini diamku hanyalah sekedar lantunan doa-doa.  Berharap bisa terkirim ke surga.   Kepada Dia, Sang Gembala yang sesungguhnya.

Hidup Bebas Tanpa Rasa Sedih dan Kuatir?

31 Jul 2024

 ======================================================================================================

Mat 13:44"Hal Kerajaan Surga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.

Mat 13:45Demikian pula hal Kerajaan Surga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah.

Mat 13:46Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, iapun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu."

======================================================================================================

Aku tidak akan bicara tentang sabda Yesus di atas, karena aku yakin bahwa setiap orang pasti memiliki pengalaman iman yang berbeda-beda.   Ada yang sudah 'merasa' menemukan kerajaan surga.  Ada yang betul-betul sudah menemukannya.  Ada yang masih mencari-cari, mengais-ngais tanpa kenal lelah meskipun ia berada tepat di depan mata.  Ada yang masih berproses dalam pencarian panjang.  Ada yang masih ragu-ragu dan menyimpan banyak pertanyaan.  Tapi di atas semua itu, intinya hanya satu: semua orang menginginkan dan mendambakan hidup dalam kerajaan surga, alias hidup bahagia.

Aku sering berpikir, apakah mungkin seseorang benar-benar bisa hidup bebas tanpa rasa sedih dan kuatir? Apakah memang bisa demikian?  Karena aku sendiri sering mengalami bagaimana perasaan sedih dan kuatir itu otomatis akan datang mengaduk-aduk emosi, saat mengalami suatu permasalahan yang tidak menyenangkan.  Rasa sedih dan kuatir akan menghantui hidup selama berhari-hari, berbulan-bulan-bulan dan bahkan bertahun-tahun.  Dan disadari atau tidak, efeknya adalah menjadikan diriku sebagai seorang yang penyakitan.  Sedikit-sedikit migrain.  Sedikit-sedikit vertigo.  Sedikit-sedikit nyeri sendi.  Encok.  Masuk angin.  Padahal harusnya 'masih jauh' dari masalah-masalah itu seperti itu.

Ada sebuah sajak dari Kalidasa, seorang pengarang drama terkenal dari India, yang sangat membekas dalam diriku.  Sajak ini, meskipun terkesan sederhana tetapi menurutku sungguh sarat dengan makna.  Sajak yang mengajak orang sepertiku untuk tidak terlalu berlarut-larut dalam kesedihan hati dan kekuatiran, karena kesedihan hati yang berkepanjangan hanya akan membunuh diri diri sendiri secara perlahan.  Bunyi sajaknya adalah seperti berikut:

SALAM KEPADA FAJAR
 
                                    Pandanglah hari ini!
                                    Sebab inilah hidup, hidup yang benar-benar hidup.
                                   Dalam jangkanya yang singkat ini
                                   Terletak semua kebenaran dan kenyataan eksistensimu:
                                                    Kebahagiaan pertumbuhanmu
                                                    Kemuliaan perbuatanmu 
                                                   Kemegahan karyamu
                                    Sebab kemarin hanyalah mimpi
                                    Dan besok hanyalah bayangan,
                                    Tapi hari ini sungguh ada dan membuat kemarin jadi mimpi bahagia.
                                    Dan besok jadi bayangan yang berpengharapan
                                    Oleh karena itu pandanglah hari ini!
                                    Inilah salam kepada fajar.

Dulu aku pernah mengetik sajak ini dan menaruhnya dalam sebuah bingkai.  Bukan untuk dijadikan azimat atau semacamnya.  Tetapi lebih sebagai pengingat diri bahwa 'hari ini sungguh ada'.  Sederhananya adalah lupakan yang sudah terjadi, berharaplah untuk masa depan, tetapi jadikanlah versi terbaik dirimu pada hari ini.  Bukan kemarin, bukan juga esok hari.  

Salah satu sabda Yesus yang mirip-mirip seperti sajak di atas dan berbunyi seperti ini:  "Oleh karena itu janganlah kamu kuatir akan hari esok, karena hari esok mempunyai kesusahannya sendiri.  Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.  Have no anxiety for the tomorrow".  Apakah dengan demikian kita tidak perlu memikirkan hari esok?  Bukankah persiapan hari esok sungguh sangat penting karena akan menentukan masa depan kita di masa mendatang?

Tentu saja orang harus memikirkan hari esok.  Masa depan harus dipikirkan baik-baik, direncanakan serta dipersiapkan sebaik mungkin.  Tetapi tidak boleh disertai dengan kekuatiran.   Itu yang mau disampaikan.  Rasa takut, rasa sedih, dan kekuatiran yang berlebihan hanya akan membawa berbagai macam jenis penyakit masuk ke dalam diri.  Pada akhirnya, banyak penyakit mematikan muncul akibat kesedihan hati yang berlarut-larut.

Jadi, saat ingin lepas dari kesedihan hati, aku mulai mencoba beberapa hal seperti berikut ini.  Pertama, berusaha tidak merisaukan soal masa depan dan belajar menikmati hidup setiap hari mulai dari saat bangun sampai saat tidur lagi (Sir William Osler).  Kedua, jika keadaan memburuk dan membuat tidak bisa berkutik, mencoba bertanya kepada diri sendiri, keadaan paling jelek seperti apa yang akan datang menimpa.  Selanjutnya menyiapkan mental untuk menerima hal paling jelek tersebut, jika memang perlu.  Setelah bisa menerima keadaan, dengan tenang berusahalah memperbaiki hal yang paling jelek tersebut (Willis H. Carrier).  Dan yang terakhir pada akhirnya akan mati sia-sia.

Beranikah Aku Membangunkan Dia?

2 Jul 2024

 =====================================================================================================

Mat 8:23Lalu Yesus naik ke dalam perahu dan murid-murid-Nyapun mengikuti-Nya.

Mat 8:24Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditimbus gelombang, tetapi Yesus tidur.

Mat 8:25Maka datanglah murid-murid-Nya membangunkan Dia, katanya: "Tuhan, tolonglah, kita binasa."

Mat 8:26Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?" Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali.

Mat 8:27Dan heranlah orang-orang itu, katanya: "Orang apakah Dia ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?"

=====================================================================================================

Salah satu lagu rohani yang kusenangi adalah lagu "Di Tengah Ombak".  Aku tidak terlalu tahu siapa pencipta aslinya, tapi lagu ini menjadi salah satu lagu idola saat hati dilanda gundah gulana.  Nggak sedang gundah pun lagu ini tetap enak untuk dinyanyikan.  Di dalamnya seolah ada penghiburan yang maha dasyat untuk setiap pergumulan yang harus dihadapi setiap hari 😁  

Di tengah ombak dan arus pencobaan
hampir terhilang tujuan arah hidupku
Bagaikan kapal yang selalu diombang-ambingkan
seolah-olah mengatasinya tiada mampu

Yesus perhatikan kehidupan tiap orang
yang sudah rusak dibetulkan dengan penuh kasih sayang
Yesus perhatikan tiap tetesan air mata
Dia mengenal hatimu yang penuh penyesalan dosa

Setiap menyanyikan lagu ini rasanya gimana gitu ya, tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.  Padahal rasanya sudah sering kali menyanyikan lagu ini.  Terkadang masak sambil nyanyi.  Nyuci piring juga sambil nyanyi.  Yang paling seru itu kalau nyanyi lagu ini di kamar mandi.  Rasanya suara kita jadi suara yang paling merdu saat itu.  Ngalah-ngalahin suara Agnes Mo pokoknya.  Habis nyanyi senyum-senyum sendiri.  Merasa lega sendiri, meskipun tentu saja masalah tidak kunjung hilang begitu saja πŸ˜‚

Bacaan Injil di atas secara tidak langsung membuatku ingin me-review diri sendiri.  Jujur saja kalau posisiku saat itu berada di atas perahu sama seperti para murid, pastilah kalang kabut juga kalau tiba-tiba angin ribut datang melanda.  Masak harus santai-santai saja sementara kapal semakin oleng dan hampir tenggelam?  Sebagai manusia biasa pasti panik dan ketakutanlah. Menurutku sangat wajar jika para murid bereaksi seperti itu. Dan sangat tidak mungkin untuk bersikap biasa-biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa.  Jadi aku agak kurang setuju ketika Yesus menegur para murid dengan mengatakan,"Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?" 

Menurutku para murid tidaklah hilang percaya begitu saja.  Meskipun dilanda ketakutan luar biasa, mereka tetap ingat bahwa mereka sedang bersama Yesus.  Itu sebabnya mereka berani membangunkan Dia yang sedang tertidur pulas di buritan kapal.  Mereka ingat bahwa Yesus adalah "Sang Maha".  Jadi mereka memohon bantuan dariNya.  Mereka percaya bahwa Yesus bisa memecahkan masalah yang ada.  Kalau tidak percaya pasti mereka tidak akan mencari Yesus.  Tidak akan memasrahkan segala macam masalah ke dalam tangan pengasihanNya. Dan menurutku, menunjukkan rasa takut bukan berarti bahwa seseorang itu hilang rasa percaya.

Selagi masih hidup di dunia, pastilah akan selalu bertemu dan berkutat dengan yang namanya masalah.  Entah masalah kecil atau besar.  Entah masalah yang menguatkan atau malah meremukkan.  Yang jelas itu semua pasti ada.  Yang membedakan adalah, apakah aku berani membangunkan Yesus seperti para murid di atas?  Apakah aku akan tetap memohon bantuan dariNya meski bakal diomeli karena dianggap kurang percaya?  Atau aku memilih untuk berpasrah dan tenggelam dalam gengsi karena ngotot memohon pertolongan dari padaNya? Sebagai manusia biasa, aku tidak akan pernah ragu untuk membangunkan Dia demi memohon bantuan saat masalah datang mendera, karena aku adalah seorang manusia pendosa yang percaya bahwa hanya dalam Dia segalanya akan baik-baik saja.

#Tetaplahpercayaapapunmasalahnya

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS