Tampilkan postingan dengan label Love. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Love. Tampilkan semua postingan

Nama Krisma Yang Dipilihnya

10 Sep 2024

 


Minggu, 25 Agustus 2024

Adalah saat penting untuk anak bujangku yang sedang menempuh pendidikan di Jogja.  Setelah enam bulan lamanya mengikuti proses persiapan, akhirnya tiba juga saatnya untuk menerima Sakramen Krisma.  Salah satu dari tujuh sakramen yang kami imani dalam Gereja Katolik.  Bersamaan dengan Ulang Tahun Paroki Hati Kudus Yesus Pugeran yang ke-90 akhirnya dia berhasil juga melangkahkan kaki lebih jauh.  Meskipun semua dijalani sendiri, karena mamaknya sedang berada di Batam untuk menemani sang bapak, tetapi tidak menjadi halangan untuk mengikuti semua prosesnya sampai selesai.

Krisantus.  Itu adalah nama yang dipilihnya.  Mengapa?  Aku juga tidak tahu.  Katanya sih suka saja dengan nama itu.  Santo Chrysanthus atau Krisantus (abad ke-3 – c. 283) adalah orang kudus yang hidup di masa Kristen awal. Ia menjadi martir pada zaman kekaisaran Roma saat banyak orang Kristen mati dianiaya karena membela imannya.  Ia bertahan sampai akhir dalam iman yang diyakininya.

Jadi nama babtis dan nama penguatan (Krisma) kalau digabung jadi Paskalis Krisantus.  Nama yang bagus sebenarnya.  Sayang tidak mau masuk seminari😁  Padahal cita-citanya tidak mau menikah.  Kan nanggung banget gitu.  Nggak mau menikah, tetapi tidak juga mau masuk biara.  Katanya pengin kerja saja.  Cari duit yang banyak supaya bisa berderma yang banyak.  Bisa menyenangkan diri sendiri dan kalau bisa menyenangkan orang lain juga.

Sebagai orangtua aku tidak peduli apakah anak-anak akan memilih menikah atau tidak menikah pada saatnya nanti.  Menikah tidak menjamin orang bahagia.  Tidak menikah juga belum tentu tidak bisa bahagia.  Semua punya kerumitannya masing-masing.  Semua memiliki saatnya masing-masing.  Kalau tidak menikah bisa bahagia kenapa harus menikah, begitulah kira-kira.  Menikah atau tidak menikah bukan jaminan bagi seseorang untuk bisa mendapatkan kebahagiaan yang diimpikannya.  Keduanya membutuhkan kesiapan mental yang luasnya hanya bisa didapat dari panjang kali lebar.

Meskipun telat, proficiat ya Mas.  Selamat melangkah ke depan.  Selamat menuju kedewasaan iman.  Teruslah kuat saat harus menjadi yang paling tidak terlihat.  Teruslah menjadi terang dan garam.  Tidak perlu muluk-muluk untuk menunjukkan dirimu hebat.  Cukup berusaha hidup baik.  Selalu menyempatkan diri menjadi kepanjangan tangan Tuhan.  Membantu sesama yang sungguh membutuhkan.  Gunakan waktu untuk hal-hal yang bermanfaat.  Jika tidak bisa menjadi orang kudus, cukuplah menjadi diri sendiri.

#Godblessyoumyson

Minggu, Hari Raya Pentakosta

19 Mei 2024

Seperti biasa, misa jam enam pagi.  Selain udara masih sejuk, suasana di jalan juga masih sepi.  Hening.  Dan yang penting masih aman untuk urusan menyeberang jalan.  Kalau misa malam Minggu atau pun misa kedua di hari Minggu sepertinya hiruk pikuk sudah mulai merajalela, karena beberapa gereja yang letaknya berdekatan, jam ibadahnya juga ikut berdempet-dempetan. Hampir-hampir sama gitu. Itu sebabnya aku lebih suka ikut misa jam enam pagi biar bisa lebih menikmati suasana pagi.

Padahal kalau mau misa jam enam itu ribetnya lebih banyak.  Gimana nggak banyak.  Bangun harus subuh-subuh.  Jerang air, bikin kopi sekaligus mempersiapkan makan binatang peliharaan.  Kalau rasa-rasanya udara terasa dingin, lanjut dengan rebus air untuk mandi.  Harus duduk-duduk manis di dapur sembari nunggu.  Karena kalau duduk-duduk manis di kasur takutnya malah molor lagi.  Selesai mandi dan lain-lainnya masih harus mempersiapkan segala sesuatu supaya tidak ada yang lupa, karena minggu lalu lupa membawa buku lagu.  Ingatnya pas sudah mau masuk halaman gereja.  Jadi sepanjang misa hanya bisa ikut menyanyi lagu-lagu yang hafal doang dan sisanya hanya bisa ngangak-ngangak memandang dirigen di depan mimbar.

Puji Tuhan dapat Romo yang agak slebor.  Mimpin misa pakai sendal (bukan sepatu sandal), dan jeans belel nongol banyak di bawah jubah.  Bukannya mau komplain atau ngasih komentar julid ya.  Tapi di kota besar yang kanan kiri diapit negara maju ini, melihat romo mimpin misa seperti nggak mandi itu rasanya jadi menyesal sendiri gara-gara harus mandi pagi-pagi karena mau ikutan misa.  Mau muka ditutup masker kayak mana pun tetep saja kelihatan seperti nggak mandi sih menurutku.  Tapi ya sudahlah.  Anggap saja lagi misa di hutan pedalaman.  Yang memang kondisinya menuntut seperti itu.  Nanti mulut lancipku yang tujuh senti ini dianggap nggak ada sopan-sopannya pulak karena ngomentari penampilan romonya tercinta😁

Tiba-tiba iseng membayangkan ada umat yang komentar begini: "Bersyukur karena masih ada romo.  Ingat, masih banyak saudara-saudara kita di pedalaman yang tidak bisa ikut misa karena tidak ada romo!" 

Padahal kan nggak ada hubungan sama sekali misa yang kuikuti pagi ini dengan kondisi umat di pedalaman yang susah dapat romo.  Lha ini kan bukan karena nggak ada romo.  Ini karena penampilan romo yang memimpin misa 'terlalu' mbois.  Dan kebetulan aku nggak hobi duduk di bangku deretan belakang-belakang kalau misa.  Jadi  otomatis kemana mata memandang ya pasti mengarah ke depanlah.  Ke altar!  Lagipula mana mungkin sih aku nggak bersyukur.  Kalau nggak bersyukur pasti aku sudah balik badan dan pulang.

 

Tapi yang paling kusuka dari misa tadi pagi adalah, saat sebelum berkat penutup Romo bilang begini: "Helooo......ini bagaimana ini?  Saya kotbah cuman dua menit, baca pengumuman sepuluh menit sendiri!"  Padahal tadi kuitungin jamnya bukan sepuluh menit.  Hampir dua puluh menit malah.  Lebih lama baca pengumuman daripada kotbah.  Semua pengumuman, dari A sampai Z, dari yang penting sampai nggak penting, dibacakan di mimbar.  Padahal pengumuman itu nantinya juga bakal disebarkan di WAG lingkungan dan wilayah. Langsunglah aku lop yu sak kebon sama Romo itu yang berani komen💓

Menurutku, pengumuman yang dibacakan di gereja itu harusnya pengumuman yang penting-penting atau yang mendasar saja.  Sisanya ya cukup diumumkan di WAG, ditempelkan di papan pengumuman depan gereja, atau ditempel di depan sekretariat paroki.  Nggak perlu sampai harus berjam-jam semua dibacakan di depan.  Bukannya konsen yang ada malah bikin ngantuk.  Nanti kalau dikomplain dipikirnya umat nggak support, nggak mendukung.  Padahal memang nyebelin banget terpaksa harus mendengar pengumuman yang terlalu panjang.  Seolah-olah slogannya itu adalah "Kalau bisa dipanjang-panjangkan mengapa harus disingkat-singkatkan?" 😂

Begitulah!  Semoga karena ada romo yang komplain, bisa mewakili perasaanku selama ini dalam mendengarkan pengumuman di paroki yang terlalu berlebihan.  Dan semoga mulai ada orang yang memikirkan solusi, bagaimana di zaman canggih dan serba modern ini, yang hampir semua orang punya kuota untuk skrol tiktok, instagram dan pesbuk, pembacaan pengumuman di gereja bisa diketahui semua orang, tanpa harus berlama-lama dibacakan.  Mbok yao yang efektif dan efisien, Rek!

#utuslahRohMuyaTuhan
#danjadibaruseluruhmukabumi

Minggu Paska ke-6 Dua Ribu Dua Puluh Empat

5 Mei 2024

 ======================================================================================================

Yoh 15:9"Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu.

Yoh 15:10Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya.

Yoh 15:11Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.

Yoh 15:12Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.

Yoh 15:13Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.

Yoh 15:14Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.

Yoh 15:15Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.

Yoh 15:16Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.

Yoh 15:17Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain."

 ============================================================================================

Maria, Yesus, dan murid yang dikasihiNya
 

Misa jam enam in the morning.  Masih juga diingatkan tentang kasih😁

Sepertinya Yesus paham bahwa ada sebagian umatNya yang masih 'ndablek' urusan kasih mengasihi ini.  Ngeyelan kayak aku.  Sukanya membantah begini begitu untuk membenarkan diri sendiri.  Itu sebabnya sabda di atas terus diulang-ulang.  Biar nggak sekedar masuk telinga kanan keluar telinga kiri dan sebaliknya.  Atau sekedar mampir hanya demi memenuhi isi kepala biar nggak terlalu kosong melompong. 

"Lha kek mana, Tuhan.  Saya pun penginnya seperti itu.  Biar bisa balance antara teori dan praktek.  Tapi kenyataannya kan nggak segampang itu!  Mengasihi orang yang baik sama kita saja terkadang masih lupa-lupa.  Apalagi mengasihi mereka yang nggak baik sama kita"

Jadi aku melihat Yesus tadi.  Tergantung di kayu salib sambil menunjuk ke arahku.  Kalau ada toa mungkin sudah diteriakkanNya keras-keras tentang kebebalan yang kupunya.  "Punya telinga tapi tidak mendengar!  Punya mata tapi tidak melihat!  Berhentilah sejenak dari riuh rendah, dan diamlah dalam senyap.  Maka semua akan terlihat kasat mata."

Dan sekali lagi aku hanya bisa berjanji.  Mungkin hanya janji-janji palsu.  Atau janji-janji tinggal janji.  Tapi minimal aku sudah berjanji.  Berjanji untuk memperbaiki  yang rusak menjadi baik kembali.  Berjanji untuk bisa mengasihi.  Berjanji untuk bisa berbuat dan bertingkah laku layaknya sahabat Yesus yang sejati.  Meskipun pada akhirnya nanti balik kepada kesalahan yang itu-itu lagi, tetapi jangan sampai mati rasa.  Meskipun tidak mudah untuk menepati janji, minimal jangan sampai hilang arah.

Meski sulit dilakukan, semangat jangan pernah padam.  Karena apapun ceritanya mengasihi juga perlu pengorbanan.  Berani melepaskan ego.  Berani merendah hati.  Berani ditolak.  Berani jadi bahan gunjingan.  Tidak masalah jika prosesnya tidak semulus jalan tol.  Yang penting sudah berani mengambil langkah.  Wajar jika terasa berat dan susah.  Namanya juga manusia.  Jangan pernah berhenti belajar untuk mengasihi, bagaimana pun caranya.

#blessSunday

Mengasihi Handphone Lebih Dari Segala Sesuatu

2 Mei 2024

 ====================================================================================================

Yoh 15:9"Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu.

Yoh 15:10Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya.

Yoh 15:11Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.

==============================================================================================

Pernah di suatu masa ketika masih bekerja, HP ketinggalan di rumah.  Panik?  Tentu saja!  Ketinggalan HP seolah-olah ketinggalan nyawa.  Terasa hampa.  Mati.  Bingung mau berbuat apa.  Handphone seolah menjadi barang paling penting di dunia, yang tanpanya, hidup juga tidak berarti apa-apa.  Dan itulah realita di zaman sekarang ini.  Realita ketika ada banyak orang yang lebih mengasihi handphonenya daripada mengasihi Allah dan sesama manusia.


Berbicara tentang kasih seringkali seperti tong kosong nyaring bunyinya.  Bunyi aja kenceng, action seringkali kurang! NATO! No Action Talk Only! 
 
Aku sering bertemu para pemuka agama yang pas di mimbar itu penuh semangat meneriakkan kasih, giliran ketemu gapruk wajahnya datar-datar saja.  Bahkan ada yang berpura-pura tidak melihat.  Padahal aku yakin beliau tahu kalau aku adalah umatnya.  Wong sama-sama baru keluar dari dalam gereja kok.  Minimal senyum kek kalau disapa.  Ini lempeng saja seolah mati rasa.  Memang tidak semua pemuka agama seperti itu.  Kalau pun ada, aku yakin itu bukan ada di parokiku😁  Ya nggak papa sih sebenarnya kalau ada.  Hanya saja kok rasanya kayak gimana gitu ya.  Seperti sia-sia rasanya duduk serius mendengarkan kotbahnya 😂
 
Tapi aku tidak mau membicarakan pemuka agama yang seperti itu.  Aku ingin berbicara tentang diriku sendiri saja.  Bagaimana mengasihi Allah dan sesama manusia itu sungguh masih menjadi PR besar, yang sampai sekarang tidak kunjung kelar.  Dan memang demikianlah adanya.  Lebih mudah mengasihi handphone daripada mengasihi Allah dan sesama manusia.  Kenyataannya memang seperti itu.  Buktinya aku kalang kabut kalau ketinggalan handphone tapi tidak pernah kalang kabut ketika ketinggalan misa.  Aku panik luar biasa ketika lupa menaruh handphone dan bersikap biasa-biasa saja ketika lupa tidak berdoa.  Aku menjadi orang yang serba minder dan gaptek saat tidak memegang handphone tapi bersikap acuh dan tidak mau tahu ketika harus  belajar menjadi manusia.  Dan sekali lagi, handphone masih menjadi prioritas utama dibandingkan hal-hal lainnya.

Yesus mengatakan bahwa orang yang hidup di dalam kasih, akan penuh dengan sukacita.  Itu memang seratus persen bener!  Buktinya kalau lagi ngambek sama suami, terus diem-dieman tanpa kata, malah membuatku sakit kepala.  Hidup segan mati tak mau!  Semua jadi serba salah.  Padahal kalau pas berbaik-baik sama dia, aku bebas bernyanyi sepuasnya di mana saja, bebas tertawa ngakak-ngakak kapan saja, bebas tersenyum dengan sumringah.  Dan tentu saja otomatis bebas dari sakit kepala dan sakit jiwa.  Jadi, banyak-banyaklah mengasihi, supaya terbebas dari berbagai macam penyakit dalam diri.
 
Meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa handphone banyak membantu dalam segala bidang, tetapi seharusnya ia bukan menjadi prioritas utama dalam hidup.  Ada saat di mana kita harus mematikannya.  Ada saat di mana hidup harus terlepas dari keterikatan yang nyandu.  Tetap dibutuhkan saat-saat hening.  Tetap diperlukan suasana yang tenang dan spesial.   Selalu terbuka untuk memperbaiki relasi dengan Allah dan sesama.  Senantiasa siap melakukan hal-hal yang mungkin berguna bagi manusia lainnya.  Intinya adalah, berlakulah bijak dalam memanfaatkan teknologi.  Dan berlakulah bijak juga dalam menjalin hubungan secara personal dengan Sang Pencipta.

#2May2024#hariPendidikanNasional

Prapaska (Hari ke-30)

14 Mar 2024

 

Di Minggu Prapaska hari ke-30 ini, ketika sedang makan kue molen sembari menyeruput secangkir kopi, tiba-tiba aku kepikiran seandainya Yesus hidup di zaman sekarang ini.  Bagaimana penampilanNya?  Apa yang akan dilakukanNya?  Apakah Ia akan memilih untuk tetap gondrong? Atau memilih berpenampilan ganteng kasual seperti drama-drama Korea yang sering kutonton?  Apakah Ia akan tetap vocal? Atau apakah Ia akan tetap berani menyuarakan kebenaran seperti yang diajarkanNya?  Dan banyak apakah-apakah lain yang tiba-tiba saja berseliweran di kepala. 

Menurutku, berpikir dan bertanya adalah cara untuk lebih 'mengenal' Yesus sesuai versiku.  Jadi jangan ada yang baper dan berburuk sangka, karena aku bukan seorang Teolog atau Ahli Agama.  Tidak ada yang salah dengan munculnya berbagai macam pertanyaan dalam perjalanan beriman seseorang.  Karena pemahaman tentang Yesus di zaman sekarang ini tergantung pada interpretasi masing-masing individu yang merasa mengenal Dia berdasarkan pengalaman pribadi.  Namun, berdasarkan ajaran-ajaran Yesus yang terdapat dalam Injil, nilai-nilai universal cinta, belas kasih, keadilan, dan perdamaian yang diajarkan-Nya, aku jadi lebih bisa membayangkan seandainya angan-anganku itu nyata adanya.

Yesus sering menekankan pentingnya melayani mereka yang kurang beruntung dan terpinggirkan dalam masyarakat. Tentu saja Ia akan melibatkan diri secara aktif dalam berbagai bentuk pelayanan sosial dan upaya kemanusiaan untuk membantu mereka yang membutuhkan. Meskipun di zaman sekarang ini membantu orang lain tidak semudah membalikkan telapak tangan, kurasa Yesus tidak akan menyerah begitu saja.  Hambatan yang muncul pada saat pelayanan, bisa jadi malah akan dijadikan sebagai suatu tantangan, untuk membuktikan bahwa yang namanya melayani dan membantu, tidak perlu dibatasi dengan berbagai sekat apa saja.

Di samping itu, tentu saja Yesus akan menggunakan berbagai metode komunikasi yang tersedia, termasuk media sosial, internet, dan berbagai platform komunikasi modern untuk terus mengajarkan nilai-nilai kasih, pengampunan, dan belas kasih kepada semua orang.  Kurasa Ia juga akan merekrut tim Admin yang bisa membantuNya mengoperasikan semua media komunikasi yang dimiliki supaya pewartaanNya menjadi lebih efektif dan mudah diterima oleh banyak kalangan.

Kalau melihat karakter Yesus yang tegas, berani dan tanpa ragu-ragu, aku yakin Ia akan tetap vocal sama seperti dulu.  Tetap berani menyuarakan keadilan dan perdamaian dalam berbagai isu sosial, politik, dan lingkungan hidup. Bisa jadi Ia akan mendukung gerakan atau kampanye yang memperjuangkan hak asasi manusia, kesetaraan, dan perdamaian dunia secara terang-terangan.  Tidak dengan demo panas-panasan.  Tapi bisa jadi dengan cerdas Dia akan memanfaatkan Youtube, Twitter, atau lewat Podcast untuk menyuarakan pendapatNya.

Seperti yang selalu dilakukanNya selama pelayanan, Yesus mungkin akan terus menginspirasi pengikut-Nya untuk hidup sesuai dengan ajaran-Nya, yaitu dengan cara mencintai sesama, memaafkan, dan melayani orang lain.  Sungguh bukan hal yang mudah.  Teorinya sih mudah.  Tetapi prakteknya sungguh sulit luar biasa.  Dan menurutku Yesus akan menempatkan diriNya sendiri sebagai contoh supaya pengikutNya bisa melakukan semua itu.  Kalau gagal, ulang!  Kalau masih juga gagal, ulang lagi!  Ulang terus meskipun harus gagal sampai ribuan kali. 

Yesus mungkin akan terlibat dalam upaya pemulihan dan penyembuhan, baik secara fisik, emosional, maupun spiritual, bagi mereka yang terluka dan terpengaruh oleh berbagai masalah dan tantangan dalam kehidupan modern.  Bisa jadi Ia akan membuka ruang konsultasi sebagai seorang psikolog, dokter jiwa atau mungkin seorang therapis.  Dan menurutku hal itu bisa saja terjadi karena zaman sekarang ini jumlah orang stres dan depresi akan selalu bertambah setiap hari. 

Ia akan tetap menentang segala bentuk ketidakadilan, penindasan, dan eksploitasi manusia.  Ia juga akan  mengajak orang untuk berdiri di samping mereka yang dianiaya dan terzalimi, dengan cara yang elegan dan berpendidikan, bukan dengan cara yang barbar.  Ketika semua kegiatan kemanusiaan yang dilakukan bisa saja dibenturkan dengan sistem perundang-undangan yang ada, maka salah satu cara untuk berjuang adalah melawan dengan pemikiran-pemikiran.  Menambah ilmu, menambah jam terbang, menambah koneksi dan  kawan-kawan baru untuk membantu perjuangan.

Itulah beberapa hal yang mungkin bisa jadi akan dilakukan Yesus seandainya Ia hidup di zaman sekarang ini.  Secara pribadi sih aku lebih suka melihatNya tampil dengan rambut gondrong, celana jeans, kaos oblong dan sepatu sneakers.  Tapi nanti tidak ada yang percaya kalau penampilanNya nggembel seperti itu.  Karena sekarang ini orang lebih percaya dengan penampilan yang necis dan mbois.  Apalagi kalau sampai baunya harum mewangi di mana-mana.  Itu sebabnya sekarang ini banyak pemuka agama yang berpenampilan necis-necis, mbois dan juga wangi.  Belum lagi 'tunggangan'nya yang tak kalah necis dibandingkan penunggangnya sendiri.  
 
Tapi untukku pribadi sih terserah Yesusnya sajalah.  Mana-mana sajalah yang Dia suka.  Mau berpenampilan seperti apapun toh aku akan tetap cinta.  Yang jelas prinsip-prinsip ajaranNya yang mendasar akan tetap relevan dan dapat menjadi panduan bagi diriku dan bagi banyak orang lainnya untuk selalu bertindak dalam kebaikan dan keadilan di zaman yang semakin semrawut sekarang ini😁

Prapaska (Hari ke-6)

19 Feb 2024

 _____________________________________________________________________________________

Mat 25:44Lalu merekapun akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau?

Mat 25:45Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku.

 _____________________________________________________________________________________

My Lovely Kepin
Pada saat melakukan hal baik, atau sesuatu yang kita anggap baik, pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri, perbuatan itu kita lakukan karena agama mewajibkan demikian, atau karena kita memang ingin melakukannya?  Apakah kita melakukan hal baik karena  adanya iming-iming bernama pahala atau karena memang itu yang kita mau untuk dilakukan?  Kalau berpahala dilakukan, kalau sekiranya tidak ada pahala tidak dilakukan.  Kalau seiman dikerjakan, kalau berbeda keyakinan dilupakan.

Menurutku, yang namanya berbuat baik itu tidak bisa hanya dibatasi oleh aturan-aturan tertentu saja.  Karena agama mewajibkan, maka kulakukan.  Kalau tidak diwajibkan tidak masalah jika tidak dilakukan.  Bagiku, berbuat baik itu wajib dilakukan, dan bisa dilakukan oleh siapa saja, kepada siapa saja, tanpa melihat sekat-sekat yang ada di sekitarnya.  Akan terasa sangat aneh ketika akan berbagi kebaikan tetapi masih dibarengi dengan pertanyaan-pertanyaan konyol seperti: "Agamamu apa? Kamu orang mana? Sukumu apa? Dari golongan mana?"
 
Kalau mau berbuat baik ya lakukan saja, tidak perlu banyak bertanya.  Karena untuk sebagian orang yang sungguh membutuhkan, pertanyaan-pertanyaan seperti itu sebenarnya tidak perlu.  Mungkin ada yang menolak uluran tangan atau bantuan karena alasan tertentu.  Tetapi bisa jadi ada lebih banyak lagi yang sungguh butuh pertolongan.  Bantu saja dulu.  Urusan mendapat pahala itu urusan belakangan.  Selagi bisa dilakukan, lakukan saja dulu tanpa pikir panjang.  Tidak perlu mengharapkan pujian atau balasan akan kebaikan yang sudah diberikan. 
Kepinsius

Terkadang keraguan untuk membantu orang lain, muncul karena adanya ketakutan bahwa kebaikan yang dilakukan tidak akan berbalaskan.  Takut orang yang dibantu tidak akan berterima kasih.  Takut hal baik yang dibagi tidak diapresiasi.  Takut ini dan takut itu.  Seharusnya begini atau seharusnya begitu.  Berbeda dengan orang yang berbuat baik karena dia memang ingin berbuat baik.  Tidak peduli ada timbal balik atau tidak akan terus diusahakan.  Tidak peduli diapresiasi atau tidak akan terus dilakukan.  Tidak terlalu memikirkan urusan surga atau neraka.  
 
Semoga dalam masa Prapaska ini kita bisa melakukan hal-hal baik karena sungguh 'melihat' wajah Allah di dalam diri mereka yang menderita, bukan hanya secara jasmani, tetapi juga secara rohani. Semoga kita bisa melakukan banyak hal baik, bukan karena ingin dapat nama, bukan juga karena mengharapkan pamrih di belakangnya.  Semoga kita bisa menjadi manusia-manusia penuh belas kasih, seperti yang diajarkan oleh Yesus sendiri.  Dan semoga kebaikan-kebaikan dan berkat yang kita bagikan bisa dirasakan oleh orang lain di sekitar kita, bukan hanya di masa Prapaska, tetapi juga di masa-masa yang lainnya.  Semoga!

Mendadak Katekis

7 Feb 2024

Datanglah kepadaKu yang letih dan berbeban berat, maka Aku akan memberikan kelegaan kepadamu
 
Meskipun di luar berpenampilan layaknya 'preman', tapi pada dasarnya aku ini agak cemen.  Gampang terharu.  Nonton drakor mewek.  Dengerin lagu sedih terharu.  Nemu kalimat indah nan mendayu-dayu di tiktok langsung meneteskan air mata.  Dengar kotbah di gereja yang ngena di hati langsung meleleh. Nggak tegaan sama orang.  Gampang luluh dengan wajah memelas butuh pertolongan.  Wes pokoke aku ini sebenarnya memang agak-agak melow-melow gitulah.  Cuman karena ketutup sama sifat celelekan dan suka bercanda jadinya nggak terlalu kelihatan😁
 
Karena nggak tegaan aku jadinya nggak bisa menolak waktu ditawari menjadi katekis dadakan di paroki.  Hanya bermodal pengalaman jadi aktivis gereja dari zaman masih muda, suka membaca dan tahu 'sedikit' tentang liturgi.  Ditambah dengan pengalaman dulu pernah jadi katekis dadakan juga di kawasan industri tempat aku kerja, plus 'rayuan' maut seorang kawan yang waktu itu jadi Koordiantor Sie Liturgi Paroki, aku memberanikan diri ikut uji nyali dengan mengatakan iya.  Oke!  Meskipun terus terang sebenarnya aku agak malas harus belajar lagi.  Belum lagi ada kekuatiran tersendiri karena paginya aku kerja.  Takutnya tidak bisa membagi waktu antara mengurus rumah (anak-anak dan suami), pekerjaan dan para katekumen itu sendiri.  Alhasil dari ketakutan itu aku malah bisa menjalaninya selama enam tahun lebih sebelum akhirnya memutuskan untuk pamit karena masih harus riwa-riwi antara Batam dan Jogja.
 
Pada dasarnya sih menjadi seorang katekis tanpa sekolah itu tidaklah terlalu susah.  Yang penting harus rajin ikut pertemuan modul yang sudah ditentukan bersama para katekis lain dan pastor paroki. Pertemuan yang biasanya diadakan satu atau dua hari sebelum pertemuan dengan para katekumen.  Harus rajin mencari-cari 'ilmu' lagi di luar sana.  Harus mau mengoprak-oprak katekismus GK lagi.  Dan sedikit banyak mau mempraktekkan dalam kehidupan nyata.  Sudah!  Dan satu lagi yang paling penting: bisa mengajar!  Tahu ilmu banyak-banyak kalau tidak bisa mengajar ya percuma.  Bisa mengajar kalau tidak ada ilmunya ya sami mawon.  Dalam hal ini aku sendiri berusaha untuk belajar menjadi guru sekaligus muridnya.  Artinya meskipun aku gurunya tetap tidak membuka kemungkinan bahwa aku mungkin bisa salah.  Jadi tidak boleh ada alasaan untuk tidak  menambah-nambah ilmu.
 
Selama ini, dalam memberikan pelajaran sebisa mungkin aku berusaha untuk menyampaikan dengan pemahaman-pemahaman yang sederhana agar mudah dipahami.  Berusaha untuk tidak terlalu 'keras' terhadap segala macam tetek bengek aturan yang ada.  Selagi bisa memenuhi kewajiban yang ada meskipun berjalan lambat ya tidak masalah.  Namanya juga tinggal di kota industri, jadi terkadang hari Minggu pun harus masuk kerja.  Izin tidak bisa mengikuti pelajaran.  Pada prinsipnya mau izin apapun semua bisa dikomunikasikan.  Nggak bisa ikut pelajaran ya atur untuk ikut susulan.  Nggak bisa ikut susulan di gereja ya datang saja ke rumah untuk ikut susulan sambil makan mie ayam.  Yang penting komunikasi.  Dan secapek apapun biasanya aku berusaha untuk membantu.

Jadi jangan kaget kalau aku masuk dalam kategori katekis nggak tegaan.  Nggak bisa lihat orang lain susah.  Belum bisa tenang kalau ada katekumen yang bermasalah.  Sebisa mungkin berusaha meluangkan waktu untuk membantu mencarikan solusi jika timbul masalah.  Kesannya aku tuh 'lembek' banget terhadap para katekumen.  Padahal menurutku, memang itulah tugas sebagai seorang katekis.  Meskipun hanya dadakan, tetapi harus bisa mencerminkan gambaran Gereja yang siap menjadi kepanjangan tangan Tuhan bagi siapa saja, di mana saja, dan kapan saja.  Setuju?

Sssttt...!

4 Feb 2024

Kemarin aku memutuskan ikut misa sore jam 17.30WIB bersama anak lanang, di gereja St. Fransiskus Xaverius Kidul Loji dekat titik nol Yogyakarta.  Mumpung cuaca lagi baik-baik saja dan semangat untuk ikut misa juga sedang bergelora😁  Biasanya cuaca atau hati yang sedang tidak baik-baik saja suka dijadikan alasan untuk 'membolos' dan memilih untuk mager di rumah daripada pergi ke gereja.  Jadi senjata pamungkas yang dari dulu tidak pernah berubah: percuma ke gereja kalau hati sedang tidak baik-baik saja!

Seperti biasa aku duduk dekat bangku koor supaya bisa ikut menyanyikan lagu-lagunya, meskipun hanya sepenggal-sepenggal.  Beberapa baris di depan sudah penuh dengan kumpulan ibu-ibu bersanggul dan berkebaya, yang ternyata adalah rombongan tamu dari paroki lain.  Jadi kami tahu diri dan segera mengambil tempat duduk jauh di barisan belakang ibu-ibu tadi karena takutnya ada sebagian rombongan yang tidak kebagian tempat. 

Baru beberapa menit misa di mulai, tepat di belakangku mulai terdengar suara bisik-bisik.  Pertama perlahan, lama-lama sungguh berisik.  Pura-pura menoleh aku sempatkan mencuri pandang.  Seorang ibu dan anak perempuannya yang baru beranjak remaja.  Sepertinya seumuran anakkulah.  Atau bisa juga di atasnya.  Tapi sepertinya sudah bukan anak-anak lagi.  Bukan hanya sekedar berbisik, tetapi sudah mulai tertawa-tawa cekikikan di dalam gereja.  Terdengar jelas di dalam gereja yang memang biasanya terasa hening saat misa.

Beberapa kali aku menoleh ke belakang untuk memastikan mereka punya 'perasaan' nggak kalau sampai ada yang menoleh terang-terangan.  Ternyata tidak juga.  Mereka tetap melanjutkan berbisik-bisik dan berbincang seolah sedang berada di sebuah warung kopi.  Bukan sedang berada di sebuah gereja. Ibu dan anak itu tetap berbincang-bincang dalam bisikan, dari awal sampai akhir misa seolah-olah tidak bakalan ketemu lagi.  Berhenti sebentar hanya pada saat maju menerima komuni.  Sesudah itu lanjut berbisik-bisik lagi.

Sebenarnya mulutku sudah mulai gatel ingin menegur.  Tapi kutahan.  Jangan sampai aku yang sudah berjuang mati-matian untuk bisa ikut misa malah harus menyimpan amarah dan tidak mendapatkan apa-apa.  Sudah begitu umat samping kanan kirinya juga diam saja.  Meskipun dua-duanya tampak gelisah tapi mereka memilih untuk tidak peduli.  Sama sepertiku mungkin mereka ingin menegur, tapi malas ribut.  Takut emosi barangkali.  Jadi memilih untuk membutakan mata dan menulikan telinga.

Alhasil ya begitulah.  Dari awal sampai selesai misa, aku harus menyabar-nyabarkan diri.  "Sabar....sabar...!" sambil mengelus dada.  Tapi kesabaran seperti itu terus terang membuatku menderita sepanjang misa.   Aslinya kesabaranku hanya setipis tisu.  Hanya bisa menghela nafas berkali-kali.  Berharap misa cepat-cepat selesai.  Beruntung misa di Yogya tidak pernah memakan waktu.  Paling lama hanya butuh satu jam saja.  Coba kalau misanya seperti di Batam, yang kalau nggak dua jam misanya seperti kurang afdol rasanya.  

Begitu keluar dari gereja anakku nyeletuk," Bising kali di belakang kita tadi.  Mamak dan anak sama-sama stres!" Sambil jalan menuju tempat parkir.  Aku terpana sejenak. Lanjut terkekeh.  Ternyata yang nggak bisa konsen bukan cuman aku.  Jadi kemarin itu, sepanjang misa aku dan dia sama-sama tersiksa...hahaha.

Tugas

11 Apr 2023

Malam Vigili Paska di paroki.  Mendapat tugas untuk menyanyikan mazmur setelah bacaan I dan II.  Sebenarnya merasa ragu karena harus menyanyikan dua mazmur sekaligus.  Grogi dan takut tidak bisa maksimal karena tenggorokan masih terasa gatal akibat batuk yang berkepanjangan.  Tapi karena dipaksa oleh "seseorang" yang antusias banget ingin melihat aku bertugas, akhirnya menerima tugas dengan lapang dada.  Itung-itung ini sebagai tugas terakhir di paroki, sebelum nanti pada akhirnya harus bergerak ke Yogya untuk mendampingi anak-anak menempuh pendidikan di sana.  

Perasaan aku sudah sangat menjaga diri ya.  Tidak minum yang dingin-dingin.  Mengurangi makan gorengan.  Tidak banyak teriak-teriak demi menjaga kualitas suara.  Tetapi pada akhirnya toh keseleo juga, meskipun "tipis"sekali kedengarannya.  Kalau yang biasa bertugas mazmur pasti tahu kalau nada pertama terdengar agak fals.  Tetapi untuk orang kebanyakan tidak ada bedanya.  Sudah dijaga baik-baik, eh, saat tampil tenggorokan gatal juga.  Mau tidak mau harus berdehem-dehem sendiri untuk meredakannya.  Baru pertama kali inilah aku bertugas sambil ehm ehm depan microphone.  Beruntunglah semua bisa dieksekusi dengan baik sampai selesai dan semua merasa puas dengan hasil akhirnya.

Mendapat tugas liturgi di gereja sebenarnya bukan hal yang baru bagiku.  Sejak kelas tiga SD aku sudah terbiasa mendapat tugas liturgi karena rumahku dekat dengan susteran dan kapel.  Semua tugas sudah pernah kuemban.  Pernah jadi dirigen untuk anak-anak yang lebih tua usianya meskipun kaki harus di"ganjel" bangku supaya  terlihat lebih tinggi.  Sering bermazmur dan menjadi lektor meskipun sama saja harus naik ke bangku supaya umat bisa melihat wajahku yang tertutup mimbar.  Tetapi meskipun demikian, sampai sekarang tetap saja agak grogi sebelum maju kalau ditunjuk untuk bertugas di depan.  Meskipun setelahnya biasa saja tetapi rasa grogi tidak pernah bisa hilang. 

Satu kesimpulan yang bisa kuambil  adalah, terasa banget kalau aku sudah mulai "tua".  Nafas sudah mulai terasa agak berat dan harus pandai-pandai mencari cela untuk menarik nafas di nada berikutnya.  Masuk usia lima puluh dua ya memang tidak bisa dibilang muda.  Sudah pasti beda kualitas menyanyi di usia bawah lima puluh dan di atas lima puluh.  Terasa banget capeknya.  Padahal sudah diatur-atur dengan baik tetapi tetap saja ada kalanya keseleo juga.

Namun demikian, terima kasih banyak untuk kesempatan masih boleh melayani.  Meskipun jauh dari kata sempurna, tetapi ini adalah persembahan terbaik yang bisa kuberikan.  Bisa jadi di tempat baru nanti punya kesempatan yang sama.  Tidak dulu, sekarang atau nanti, selagi masih bisa berbuat sesuatu akan kulakukan.  Minimal hidup bisa berguna untuk diri sendiri dan orang lain.  Semoga Tuhan masih memberikan waktu dan menganugerahkan kesehatan, supaya semakin tua nanti tidak semakin menyusahkan.  Amin!

Belajar Mengenal Dia

16 Jun 2019

Semakin bertambah umur, saya merasa iman saya semakin tipis seperti lembaran plastik folder yang biasa saya pakai untuk tempat menaruh partitur nyanyian koor.  Seharusnya, menurut teori, semakin bertambah umur seharusnya saya semakin kuat, teguh, kukuh berlapis baja dalam beriman.  Ini malah sebaliknya.  Hidup doa saya yang dahulu begitu indah, sekarang terasa begitu kering seperti ranting pohon di padang gurun yang tak pernah tersentuh air.

Apakah saya termasuk orang yang salah asuhan?  Atau salah pengajaran?  Saya rasa tidak!  Dalam setiap permenungan saya merasa bahwa selama ini saya terlalu tinggi hati dalam beriman.  Saya merasa bahwa dengan hidup serba relijius, saya menjadi semakin dekat dengan Tuhan.  Tapi ternyata tidak demikian.  Kehidupan relijius tanpa mau memandang ke kedalaman hati yang paling dalam adalah kesia-siaan belaka.  Ketika saya merasa semakin relijius, saya malah sering lupa di mana saya berada.  Hati saya hampa.  Saya menjadi mati rasa.  Saya lupa bahwa saya hidup di dunia bersama dengan manusia lainnya.  Sesamaku manusia.

Dan saya teringat sabda Yesus berikut ini," Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!"

Dari situ saya mulai berkaca pada diri sendiri.  Betulkah saya bisa mengasihi sesamaku manusia?  Sesama di sekitarku, apa pun adanya mereka adalah manusia.  Suamiku.  Anak-anakku.  Tetanggaku.  Teman kerjaku.  Keluargaku di kampung.  Kenalanku.  Mereka semua adalah sesamaku manusia.  Apakah aku dengan mudah bisa mengasihi mereka?  Bukankah kata maafku selalu tersendat setiap kali hatiku tersakiti oleh perbuatan mereka?  Jika mengasihi sesama yang kukenal saja terasa begitu susah, bagaimana dengan "Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi orang yang menganiaya kamu?"

Ternyata beriman saja tidak cukup.  Harus ada bukti nyata.  Harus ada perbuatan yang menunjukkan bahwa saya sungguh beriman.  Itu sebabnya imanku terasa garing.  Ketika cinta kasih harus memilah dan memilih kepada siapa ia harus diberikan, iman akan terasa hanya menjadi seperti beban.  Seharusnya mengasihi tidak boleh pilih-pilih.  Mengasihi ya mengasihi saja.  Tidak perlu bertanya apa sukunya, apa golongannya, apalagi apa agamanya.  Jika kasih hanya dibagikan kepada orang tertentu saja, maka akan hampalah hatimu dan imanmu menjadi ciut.  Ciut mengkerut dan perlahan akan layu sebelum berkembang.

Jujur saja, saya perlu belajar lagi tentang beriman yang benar.  Supaya hidup doa saya kembali sejuk dan menguatkan.  Bisa jadi saya perlu mengurangi interaksi saya di dunia maya dan kembali hidup di dunia nyata.  Bersama sesama manusia yang betul-betul hidup di sekitar saya.  Di keluarga.  Di kampung tempat saya tinggal.  Di tempat saya kerja.  Di komunitas dan lingkungan gereja.  Di manapun saya berada. Berinteraksi artinya adalah, siap mengenal Dia dalam wujud sesama manusia dan bertindak sesuai dengan yang dikehendakiNya, yaitu: MENGASIHI.

Komuni I 2017 - Pertemuan Pertama

19 Mar 2017

Hari ini adalah seleksi pembinaan komuni pertama di paroki untuk tahun 2017.  Jika tahun-tahun sebelumnya anak-anak dites dan diseleksi dengan bertele-tele, dibuat mabuk dengan berbagai macam modul yang harus dipelajari, maka tahun ini agaknya menjadi agak spesial sedikit.

Pembinaan untuk anak-anak hanya akan dilakukan sebanyak 10 kali pertemuan, ditambah dengan pertemuan untuk orangtua hanya 5 kali saja.  Tes dilakukan berdasarkan tingkat usia dan sekolah.  Semua serba dipermudah, supaya anak-anak tidak merasa takut dan tertekan.  Wajar saja jika peserta yang terdaftar tahun ini sungguh sangat luar biasa: banyak banget dah!. 

Tahun ini aku mendaftarkan Altar dan Lunar bersama-sama.  Yang satu kelas 5 SD dan yang satunya kelas 3 SD, meskipun bodi sudah sebesar anak SMP.  Maksudnya, biar sekali jalan dalam mengikuti pembinaan dan sekaligus biar ada teman nantinya.  Kalau menunggu tahun depan, si bontot ini ini akan lebih malas lagi karena merasa tidak ada temannya.

Tapi....ya Tuhan.....diam-diam si Lunar mogok.  Pada saat kami mengikuti pertemuan orangtua, dianya malah nongkrong di sudut kantin gereja dan menolak untuk mengikuti seleksi.  Jadi, terpaksalah emaknya ini turun tangan.  

"Kenapa nggak masuk, dek? Nanti gurunya mencari!"

"Nggak mau!  Lunar nggak mau masuk dan ikut seleksi!"

"Lho, kenapa?  Kan sudah daftar?"

"Aku takut lupa, Bun.  Memang sih aku sudah hafal doa-doa dasar, tapi kalau sudah maju nanti, aku pasti lupa!"  dia kekeuh tidak mau masuk.

"Ya sudah.  Ayo bunda temani.  Pasti nanti jadi berani!  Tesnya kan sekarang gampang-gampang.  Ngapain takut?" aku mencoba menenangkan.

Setelah ba bi bu dengan berbagai macam argumen, akhirnya dia pun beranjak dari kursinya.  Kutemani dia berkumpul dengan teman-teman sebaya yang juga mau ikut tes komuni pertama.  Beberapa di antara mereka menyambutnya dengan ramah.  Dan, dia pun segera lupa dengan takut dan groginya, serta mulai melupakan emaknya.

Daripada bengong, aku menawarkan diri membantu seleksi. Guru pembina hanya beberapa, sedangkan yang dites luar biasa.  Setelah dibriefing sejenak oleh sang ketua, akhirnya dari hanya sekedar mengantar, aku pun akhirnya 'kecemplung' juga.  Lumayan, dapat menyeleksi 3 anak setingkat SD kelas 6, 1 SMA, 2 SMP dan 1 dewasa.  

Rata-rata yang mendapat giliran seleksi denganku sudah hafal dengan doa dasar.  Hanya saja, mereka masih 'bolong-bolong' pergi ke gereja.  Padahal, kaitan utama menerima komuni adalah ikut misa di gereja.  Jadi, meskipun hafal doa-doa, tetapi jarang-jarang ikut misa, bagiku tidak ada artinya.  

Aku memandang ke sekeliling. Menurutku, sekuat apapun pembina berusaha, jika tidak ada dukungan orangtua, anak-anak ini akan tetap menjadi anak-anak yang hanya paham teori saja.  Bagaimana mungkin mengharapkan anak-anak ini paham dan mengerti bagaimana menjadi seorang Katolik yang baik, jika mereka tidak pernah melihat contohnya dalam hidup sehari-hari.  Orangtua yang tidak hafal doa dan tidak pernah berdoa di rumah, orangtua yang tidak pernah mengikuti misa, orangtua yang hanya pandai memerintah dan tidak tahu caranya bagaimana menjadi teladan bagi mereka, orangtua yang hanya pandai membentak dan memerintah tanpa tahu apa yang seharusnya dilakukan oleh anak-anak mereka.

Ah, Yesus yang tanganMu tergantung satu di kayu salib, sementara yang satu mengarah padaku........

Yang utama dan terutama itu adalah belajar bagaiamana mencintaiMu.  Dengan belajar mencintai, semua akan dimudahkan.  Dengan berani mencintai, anak-anak ini akan menjadi anak-anak hebat yang mampu untuk mencintai nantinya.  Tapi jika orangtuanya tidak sanggup mencinta, bahkan mencintai anak-anaknya, bagaimana mereka akan mencintaiMu?  Jika mereka tidak bisa mencintaiMu, bagaimana mereka akan bisa mencintai sesama nantinya?

Ah, mbuhlah.....!

Spirit Yang Letoy

4 Jan 2017

Saya ingat waktu jamannya masih muda, saya begitu bersemangat kalau ada kegiatan di gereja.  Saking semangatnya saya sampai malas untuk pulang.  Mau capek mau nggak, sepulang kerja saya sempatkan untuk datang walau hanya sekedar berhalo-halo dengan teman-teman.  Waktu itu, masa muda sangat terasa begitu indahnya.  Saya begitu menikmati kecintaan saya kepada Tuhan di dalam kepenatan saya.
 
Seiring berjalannya waktu, saya sering kehilangan semangat.  Semenjak menikah dan punya anak hanya sekali sekala saja saya melibatkan diri dalam kegiatan menggereja.  Itu pun karena ada beberapa teman yang tidak bosan-bosannya mengajak karena mereka tahu bahwa saya bukan tipe orang yang bisa menolak. Dan saya memang tidak pernah bisa menolak.
 
Perlahan tapi pasti, dengan alasan memberikan kesempatan kepada mereka yang lebih muda untuk berkarya, saya (dan suami) mencoba untuk menjauh dari segala hiruk pikuk dan berbagai macam kegiatan gerejawi.  Kami sepakat menjadi penonton.  Kami adalah sebagian penonton yang menonton berbagai macam pernak-pernak drama seri yang dipertontonkan oleh sebagian orang yang terlihat begitu lebay dalam menunjukkan keterlibatannya di gereja. Saking lebaynya sampai2 banyak terjadi pelanggaran liturgi tanpa ada koreksi dari romo paroki.
 
Terkadang saya merasa sepertinya ada yang salah.  Setiap melihat sesuatu yang tidak pada tempatnya, saya hanya bisa berkomentar dalam hati atau kalau perlu berkomentar berdua bersama suami.   Sebenarnya mulut ini gatal mau mengomentari.  Tapi karena komitmen untuk tidak mau terlibat terlalu jauh saya ya diam saja.  Saya tahu bahwa ini juga salah.  Seharusnya saya tidak boleh hanya diam saja melihat sesuatu yang salah. Lha kalau romo parokinya yang sekolah tinggi2 saja diam seribu bahasa masa saya harus berkomentar sih?
 
Jujur saja, spirit yang letoy ini membutuhkan banyak penyegaran.  Itu sebabnya saya mulai untuk melibatkan diri lagi, meskipun baru dimulai dari tingkatan paling bawah: level komunitas.  Biarlah saya mulai menyegarkan diri lagi di tengah-tengah saudara satu komunitas.  Siapa tahu selain mendapatkan penyegaran sekaligus bisa mendapatkan pencerahan.

Hanya saja ketika kami berdua mulai menampakkan batang hidung, mulailah terdengar suara-suara: "Cieee....cieee......para sesepuh turun gunung nih yeee........!"

Dan saya hanya bisa nyengir kuda.  Biarlah saya yang nyengir kuda, asalkan jangan kuda yang nyengir mirip saya.....!

#Tuhan, tinggallah di dalam diriku....amin.
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS