Tampilkan postingan dengan label Hope. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hope. Tampilkan semua postingan

Harapan Seorang Simbok untuk Anak Lelakinya

19 Jun 2024

Apakah ada alasan tertentu mengapa ketiga anakku semua namanya berakhiran 'AR'?  Tidak!  Tidak ada!  Bukan apa-apa sih.  Nama itu diambil biar mudah diingat saja.  Terus biar lebih mudah diingat lagi nama belakangnya kusamakan saja semuanya.  Tinggal mikir nama babtisnya.  Nama babtis tinggal cari dari kalender liturgi Gereja berdasarkan tanggal lahir masing-masing.  Kalau tidak ada yang pas ya cari nama yang mendekatilah.  Contohnya anak keduaku, laki-laki.  Ia lahir pas dekat-dekat Paska.  Jadi nama babtisnya kusamber saja Paskalis.  Anak ketiga lahir bulan November.  Sudah mau dekat-dekat Desember - Natalan.  Jadi nama babtisnya Emanuelle - Tuhan beserta kita.  Sudah!  Mudah dan simpel, kan?  

Nama anak pertama terinsipirasi dari salah satu novel Agatha Christie yang tokoh utamanya bernama Pilar.  Dalam buku tersebut digambarkan tokoh Pilar ini adalah seorang perempuan muda berkarakter kuat, cerdas, dan tidak menyeh-menyeh dalam menjalani kehidupan.  Pokoknya tangguhlah.  Aku pengin anak pertamaku, yang seorang perempuan itu, jadi orang yang tangguh seperti dalam buku novelnya Agatha Christie.  Anak kedua kuberi nama Altar karena terus terang saja aku berharap, suatu saat nanti dia akan punya cita-cita menjadi imam, supaya bisa memimpin misa di altar.  Anak ketiga kuberi nama Lunar karena aku ngefans sama tanggalan Cina di mana pengertian Lunar adalah bulan.  Mungkin kalau ada anak keempat akan kuberi nama Senar....atau Gitar??πŸ˜‚

Sebagai mamak yang baik, aku sering iseng menanyakan ke anak laki-lakiku begini," Nggak mau kamu masuk seminari, Mas?"

"Ha?!  Seminari??  Kagaklah!" dia menjawab lempeng-lempeng.

"Lha, kenapa emangnya kok nggak mau?"

"Kalau masuk seminari harus jadi Romo kan?  Nggak maulah!"  ia menjawab lagi.

"Lha iya....kenapa kok nggak mau?  Padahal dulu dikasih nama Altar siapa tahu bisa jadi Romo!" aku ketawa-ketawa.

"Ya nggak mau saja.  Ribet sepertinya jadi imam.  Nggak bisa main game.  Nggak bisa pegang handphone lama-lama.  Kerja nggak ada hari liburnya.  Hari Sabtu dan Minggu pun masih harus kerja.  Sudah nggak dapat gaji, nggak dapat hari libur lagi.  Kan kerja rodi itu namanya!"😁

"Lha....! Ya nggak gitu juga kali konsepnya," aku menyahut sembari garuk-garuk kepala.  Speechless!

"Lagipula jadi imam itu kan harus berdasarkan panggilan.  Harus dari hati.  Dan yang namanya panggilan itu tidak boleh dipaksakan, Bun!" si paling jarang ngomong ini nyerocos lagi.  "Masak aku harus jadi seperti Romo X yang kalau kotbah di altar ngebosenin kayak gitu?  Belum lagi kalau ketemu umatnya di luar macam orang nggak kenal saja" ia melanjutkan lagi.

Aku semakin garuk-garuk kepala.  Ya betul juga sih.  Yang namanya panggilan itu memang tidak boleh dipaksakan.  Ada kalanya kita menggebu-gebu tapi ternyata malah jalannya bukan di situ.  Ada juga yang tidak terlalu antusias eh ternyata malah bisa bertahan lama tanpa diduga-duga.  Hanya saja kalau tidak diprovokasi mana bisa panggilan itu muncul begitu saja, ya kan?

Jadi begitulah.  Sampai saat ini, aku dan suami tetap punya harapan setinggi itu.  Mungkin terlalu muluk.  Mungkin juga terlalu egois.  Tetapi tetap tugas setiap orang tua adalah mendoakan anak-anaknya supaya bisa menemukan jalan hidup terbaiknya.  Aku tahu menjadi seorang imam  tidaklah mudah.  Tantangan ke depan akan semakin banyak seiring gempuran kemajuan teknologi.  Akan semakin banyak pertanyaan yang bisa jadi melelahkan atau bahkan menjerumuskan.  Tantangannya bukan kaleng-kaleng lagi.  Butuh orang berhati lembut, penuh belas kasih, namun tangguh dalam menjalankan tugas-tugas imamatnya.  Jangan sampai menjadi imam hanya lugas dan tangkas di altar, tapi mlempem di kehidupan yang sesungguhnya.

Bagaimanapun juga yang namanya harapan itu ya tetap harus diusahakan.  Harus tetap didaraskan.  Tapi aku tidak mau maksa-maksa.  Mau ke sana syukur, nggak mau juga nggak masalah.  Pada saatnya nanti, yang namanya panggilan akan muncul kapan saja, di mana saja.  Manusia boleh berencana tetapi tangan Tuhan juga yang akan bekerja. 

Pax Christi

Dua Puluh Tujuh April Dua Ribu Dua Puluh Empat

29 Apr 2024

Apakah ada yang merasa biasa-biasa saja saat pertambahan usia?  Bertambah usia dan semakin menua adalah hal yang lumrah.  Semua manusia pasti akan mengalaminya:  lahir, bertumbuh kembang sesuai bagiannya, menua, dan pada akhirnya mati.  Kalau pada akhirnya sudah berada di posisi golden age lebih sikit, itu adalah hadiah luar biasa dari Sang Pemberi Hidup.  Jadi setelah sebelumnya di masa lalu sibuk merayakan kehidupan yang masih berjalan dengan pesta pora, kali ini adalah kesempatan untuk lebih masuk ke dalam ketenangan dan keheningan.

Sabtu, 27 April 2024
Merayakan bertambahnya umur dengan memandikan anjing seperti biasa, bersih-bersih rumah, menonton serial criminal di Netflix, dan mendengarkan lagu-lagu melow kekinian sebagai pengantar tidur siang di Spotify.  Tidak ada kue ulang tahun dengan lilin-lilin yang harus ditiup.  Tidak ada nyanyian selamat ulang tahun.  Tidak ada pesta.  Yang ada adalah merayakan hidup dengan caraku.  Anak sulungku video call dan mengejekku dengan sebutan sudah tua.  Yang lain-lain memberikan ucapan selamat dengan caranya masing-masing.  Dan menurutku, semua itu adalah bagian dari perayaan kehidupan.  Menjalani hidup sesimpel dan sefleksibel mungkin dengan rasa bahagia.
 
Keesokan harinya memilih ikut misa yang jam enam pagi.  Saat yang tepat untuk berterima kasih kepada Sang Pemilik Kehidupan.  Meskipun banyak sekali pertanyaan yang berkecamuk di kepala, tetapi berbincang-bincang tentang kasih di pagi hari itu sungguh sangat berarti.  Aroma udara pagi dan kesunyian yang berdetak jauh di sudut hati menjadi bukti bahwa aku masih ada dan hidup ini sungguh nyata.  
 
Dalam keheningan aku memandang salib.  Mencoba berbincang dalam diam yang memabukkan.  Semakin memandang salib, semakin aku diingatkan tentang gambaran kematian sekaligus kehidupan.  Memandang salib adalah saat di mana aku merasa disayang dan diperhatikan.  Memandang salib terasa begitu menyakitkan sekaligus menyejukkan.  Memandang salib seolah memandang cinta yang seringkali terabaikan.    Memandang salib adalah menjenguk jauh ke dalam hati yang sekeras batu sekaligus rapuh.  Memandang salib adalah sumber kekuatan untuk tetap bisa bertahan dalam pengharapan.
 
Lima puluh tiga tahun sudah menerima udara dengan cuma-cuma.  Lima puluh tiga tahun tanpa pernah dikirimi tagihan sama sekali.  Bukankah ini adalah hal yang sungguh luar biasa?  Tidak masalah jika selama lima puluh tiga tahun tidak selalu bergelimang saat-saat indah.  Tidak masalah jika ada kalanya mengalami hari-hari suram.  Tidak masalah apapun warna yang pernah terjadi tergores dan tergambar di dalamnya.  Yang menjadi masalah adalah jika engkau mulai hilang rasa percaya.  Hilang pengharapan, iman, dan juga cinta.

Jadi, tetaplah memandang salib.  Tetaplah percaya!

#blessingday270424

Lho, kok gitu sih?

31 Jan 2024

Foto hanya pemanis
Seorang pemuka agama Katolik yang kukenal terang-terangan menyatakan dukungannya kepada salah satu pasangan calon tertentu pada pemilihan presiden kali ini.  Ia menayangkan dukungannya di beranda media sosial miliknya.   Dengan membawa-bawa nama Roh Kudus, dan menyatut nama KWI untuk mempengaruhi pengikutnya.

Ya nggak papa sih.  Itu hak dia dan sah-sah saja.  Wong dia menayangkan di berandanya sendiri.  Tapi menurutku sungguh tidak etis ketika ia mulai bermain body shaming kepada salah satu pasangan tertentu.  Semacam menghina dengan kata-kata.  Seolah ingin menyatakan bahwa orang yang badannya 'gemoy' itu nggak bagus.  Nggak baik.  Belum lagi pakai nyatut nama Roh Kudus dan KWI hanya demi memuaskan pandangan politiknya. Suatu hal yang menurutku tidak bisa ditiru.  Tidak mendidik sama sekali dan justru bisa membawa perpecahan di antara umat.

Menurutku sih terlalu picik ya kalau harus bawa-bawa nama Roh Kudus dan KWI untuk berkampanye.  Romo kok kampanye??  Gereja kok kampanye??  Apalagi diupload di media sosial yang semua orang bisa melihat. Kita akan memilih seorang presiden loh.  Bukan memilih uskup, apalagi kardinal.  Pemilu itu berkaitan dengan mati hidupnya negara ini.  Demi kemajuan negara ini ke depannya mau jadi apa.  Bukan mati hidupnya Gereja Katolik.  Bukan mati hidupnya paroki.  Kok kegangguren kali Roh Kudus dan KWI mengurusi hal-hal seperti ini.  Kalau Roh Kudus itu Maha Cinta ya seharusnya tidak memihak dong.  Kalau KWI itu mengayomi seluruh umat ya tidak bakalan menginstruksikan apa-apa dong.  Biarkan sajalah umat memilih sesuai kata hatinya.  Sak karepe!

Lagipula umat kan bagian dari masyarakat juga.  Mereka adalah manusia yang sudah dianggap dewasa dan bisa menentukan pilihannya.  Sudah punya KTP.  Punya otak dan akal budi masing-masing.  Punya pendapat sendiri-sendiri.  Ngapain pula harus diopyak-opyak untuk memilih calon pasangan tertentu yang 'katanya' disukai oleh gereja.  Kok tiba-tiba saja aku teringat dengan pemilihan gubernur DKI Jakarta beberapa tahun yang lalu.  Apakah Gereja sekarang ini juga sedang memainkan politik identitas seperti waktu itu? Hadeuh, kok jadi nggak habis pikir ya.  Puyeng pala awak!

Kemarin di WA grup lingkungan tempat tinggalku selama di Jogja juga sudah ada yang mulai kampanye.  Dengan mengirim video tiktok yang menunjukkan Paus Fransiskus menunjukkan jari lambang metal.  Narasinya menjelaskan bahwa Paus Fransiskus juga menunjukkan dukungannya kepada calon pasangan tertentu.  Kalau aku malah ketawa ngakak.  Lha ngapain pula Paus Fransiskus menunjukkan keberpihakannya kepada calon pasangan presiden tertentu?  Kurang kerjaan?  Mbok positif thinking saja.  Siapa tahu beliau penggemar band metalica.  Gay dan lesbian saja dibelanya kok.  Masak hanya urusan milih presiden yang notabene bukan presiden di negaranya terus jadi mencla mencle dan terang-terangan menunjukkan keberpihakan yang berpotensi memecah belah umat.  Lagipula yang namanya konten bisa dibuat kok.  Konten-konten kampanye di media sosial itu memang dibuat untuk kepentingan pemilu.  Yang membuat siapa?  Ya tim suksesnya dong.  Jadi tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya.

Kok aku jadi esmosi ya? πŸ˜‚  Kalau ada yang tanya aku milih siapa jawabanku adalah mbuh!  Belum kupikirkan.  Ketiganya nggak ada yang cocok di otakku.  Bukan tipe yang ingin kupilih.  Tapi kalau harus memilih aku akan memilih di mana ada kelanjutan program presiden Jokowi di dalamnya.  Nggak peduli gereja mau bilang apa.  Lha wong pilihan-pilihanku sendiri kok.  Yo sak karepkulah!  Intinya itu nggak usah bawa-bawa nama Roh Kudus atau KWI lah.  Nggak ada ceritanya Roh Kudus atau Gereja itu ikut kampanye, atau bahkan mengkampanyekan untuk memilih calon tertentu. Nggak perlu membawa-bawa agama demi ambisi tertentu.  Bagiku, di manapun, kapanpun dan apapun alasannya, yang namanya politik identitas itu sungguh sangat memuakkan.

NB: Sekarang ini aku lagi 'bermeditasi' di Jogja.  Males bergerak untuk mengurus pindah tempat di mana nanti supaya bisa nyoblos.  Bisa jadi aku milih, bisa jadi juga nggak milih.  Pengin santai saja menjalani hidup. Nggak perlu diopyak-opyak harus begini begitu oleh orang lain.  Yang penting hepi, bisa makan kenyang, tidur nyenyak dan banyak jalan-jalan😘

Tidak Ada Judul

3 Jun 2017

Jadi ingat, Pak Suami pernah bercerita tentang pengalamannya mengantar beberapa emak-emak yang bertugas untuk mengurusi keperluan gereja.  Seperti biasa, yang namanya emak-emak itu kalau sudah terdiri lebih dari satu orang, pasti "bising" dan isinya cenderung ngomongin orang lain.  Dan memang demikianlah adanya.  Dari acara ngomong ringan tentang urusan pelayanan, makin lama makin melebar ngomongin hal-hal yang nggak penting.  Pada dasarnya tentu saja, membandingkan situasi paroki yang lama dan yang baru.

"Jadi poinnya apa?" saya bertanya.

"Poinnya adalah, orang-orang ini tidak pantas menjadi orang yang mengaku-aku menjadi pelayan gereja.  Mereka membicarakn kepengurusan yang dulu begini dan begitu, tapi dari omongannya mereka juga tidak lebih baik dari yang mereka omongkan!  Nyinyir full kesimpulannya!"

Refleks saya terkekeh. Pak Suami ikut terkekeh.  Lucu saja membayangkan lagak dan laku orang-orang yang disebutkannya tadi.  Orang-orang yang merasa selalu lebih hebat dan lebih baik dari yang lain.  Ujung-ujungnya terus memberikan penghakiman.  Memberikan penilaian sepihak.  Selalu berprasangka buruk terhadap orang lain.  Merasa di pihak yang benar dan yang lain berada di pihak yang salah.

"Coba bayangkan, masa suster pun ikut-ikutan ngomongin orang?!  Ikut-ikutan nyinyir.  Aduh, heran deh!  Ada saja yang jadi bahan omongan!  Kesannya itu mereka tidak siap jadi orang 'penting' di gereja.  Semua yang nggak seide digunjingin"

Saya tambah ngakak.  Menurut saya yang umat biasa-biasa saja ini, terlepas dari anggapan bahwa kepengurusan yang lama begini atau begitu, kalau kepengurusan yang sekarang memposisikan diri sebagai orang yang lebih baik atau hebat dari sebelumnya itu artinya beda-beda tipis saja.  Bagaimanapun, bekerja untuk gereja itu haruslah karena cinta. Cinta kepada Tuhan, bukan cinta kepada romo paroki.  Jika  pelayanan didasarkan karena cinta kepada Tuhan, maka siapa pun yang menjadi romo parokinya tidak akan ada yang namanya 'nggunjingin' satu sama lain.  Tidak akan ada yang galau -menggalau jika sang romo dipindahtugaskan.

Dari dulu, saya adalah orang yang netral.  Saya tidak berusaha memihak sana atau sini.  Lha ini gereja loh. Masak harus ada 'geng-gengan' sana atau sini.  Melayani, menjadi pelayan, itu harusnya ya memang dari hati.  Kalau mau ya ayok....kalau nggak mau ya jangan dipaksa.  Biarkan rasa cinta kepada Tuhan itulah yang menumbuhkembangkan iman.  Jika karena cinta, maka diminta'in' tolong apa saja pasti OK saja. Gitu saja kok repot.  Jadi nggak perlu repot-repot juga membanding-bandingkan yang dulu dan sekarang.

Ayolah....bangun dong......nggak perlu saling menjelek-jelekkan lagi.  Ntar yang jelek jadi tambah jelek loh.  Harusnya semua saling bekerjasama, bahu membahu untuk kepentingan gereja, bukan untuk kepentingan kelompok atau orang per orang.  Semua kita adalah anggota keluarga! 

Unek-unek di Bulan April

22 Apr 2017

Ketika diminta untuk menjadi pendamping misdinar, aku sebenarnya ragu.  Bisa atau tidak ya?  Selain takut tidak ada waktu, aku juga sudah lupa bagaimana rasanya menjadi misdinar dan apa yang harus diketahui oleh seorang misdinar.  Tetapi karena tugasku adalah mendampingi dan karena ditunjuknya di hadapan banyak orang, akhirnya dengan setengah terpaksa aku mengangguk mau.

Tapi semangat saja ternyata tidak cukup.  Penugasan untuk menjadi pendamping ini membuatku bingung karena ternyata, katanya, romo paroki sudah menunjuk sendiri pembina misdinar, yang notabene adalah seorang biarawati.  Sie Liturgi paroki terus berusaha meyakinkan dan mengatakan bahwa tugasku adalah membantu suster dalam mendampingi anak-anak misdinar.  Dia menyuruhku datang saja pada saat pertemuan.  Dimintanya aku berkoordinasi dengan suster tersebut.  Meskipun masih ragu dan bimbang, aku mencoba datang.

Sayang seribu sayang, kehadiranku hanya dianggap 'obat nyamuk'.  Jangankan berkoordinasi, bertegur sapa denganku saja suster tersebut kelihatan enggan.  Jangankan bertegur sapa, memberi salam saja ia tidak pernah.  Nampak sekali kalau kehadiranku sebenarnya tidak diperlukan.  Aku jadi bingung lagi, benar nggak sih keputusanku untuk mengatakan iya?  Sebenarnya untuk apa lagi Sie Liturgi memerlukan seorang pendamping misdinar jika sudah ada seorang suster, yang notabene lebih berpengalaman, untuk mendampingi dan membina anak-anak?

Aku tidak tahu ada masalah apa antara Suster tersebut dan Sie Liturgi paroki.  Tetapi kesannya aku ikut menjadi pihak yang harus dibenci dan dihindari.  Beberapa kali hadir dalam pertemuan misdinar, nampak sekali bahwa sebenarnya satu pendamping lagi tidak diperlukan.  Aku tetap menjadi orang asing, yang tidak tahu sama sekali apa yang harus dilakukan.

Jadi, secara sepihak aku menyatakan mundur.  Menurutku, kegiatan apapun, jika teman seperjuangan tidak senada seirama dengan kita, pada akhirnya hanya akan menimbulkan luka.  Adalah lebih baik aku mundur sekarang, daripada harus pura-pura bersikap ramah.  Bagiku, seorang suster haruslah tetap menjadi seorang suster apa pun profesinya.  Ia harus mampu menunjukkan rasa cinta dan penghormatan kepada orang lain.  Pada dasarnya, menjadi seorang biarawati adalah menjadi seorang abdi.  Ia harus bisa menampilkan Kristus dalam hidupnya.  Jika seorang biarawan atau biarawati masih terpaku pada hidup dan dirinya sendiri, sebaiknya ia mulai berkaca, merenung dan mulai melepas jubahnya.  

Tuhan, Sang Pengasih, maafkan saya.  Saya tidak sanggup menjadi umat yang hanya bisa bilang iya-iya saja.  Jika perlu membantah, saya akan membantah, karena tidak sepatutnya Engkau diwartakan dengan cara demikian.  Bagiku, mewartakanMu adalah mewartakan kasih, bukan dengan bertingkah congkak dan merasa hebat sendiri.  Saya selalu bermimpi dan akan terus bermimpi, bahwa mencintaiMu haruslah dengan tindakan nyata dan bukan hanya dengan omong kosong belaka.

Maafkan saya, yang menyerah sebelum waktunya.

Beda Jaman Beda Kelakuan

18 Feb 2017

Para biarawati muda itu, terlihat begitu nyata.  Mereka berjalan cepat-cepat dengan kepala tegak dan wajah datar, seperti tanpa rasa.  Berpapasan dengan umat pun mereka terlihat enggan.  Banyak menjaga jarak, cenderung arogan.  Hanya bertegur sapa dengan mereka yang mereka kenal dan yang mau menyapa mereka terlebih dahulu.  Pemandangan itu memunculkan pertanyaan yang aneh, "apakah mereka betul-betul biarawati?"

Berbanding terbalik dengan para biarawati yang sudah tua.  Mereka tanpa segan menyapa dan memberi salam jika bertemu dan berpapas dengan umat.  Membagi senyuman ramah tanpa peduli mereka kenal atau tidak.  Para suster tua ini, sejujurnya mengingatkanku tentang aliran cinta, yang seharusnya nyata dan terlihat di dalam Gereja.  Tapi, bukankah yang namanya abdi Allah itu tidak perlu ada pembedaan antara yang tua dan yang muda?  Bukankah mewartakan Kristus itu tidak perlu diembel-embeli kau tua atau aku muda?

Itulah pemandangan yang sering kami lihat di parokiku.  Aku dan suami sering tersenyum geli sendiri.  Lucu saja kesannya.  Bagaimanapun juga, kami berdua pernah mengalami betapa membahagiakannya saat-saat bertemu dengan para abdi gereja pada waktu dahulu kala.  Jadi ketika melihat kejadian yang berbanding terbalik dari yang 'seharusnya', kami hanya bisa saling memandang, untuk kemudian cekikikan spontan tanpa jedah.

Ah,  betapa aku ingat para biarawan biarawati di kampungku dulu.  Betapa indahnya memandang mereka.  Betapa rindunya aku senantiasa.  Memandang wajah mereka aku seolah melihat Kristus.  Tidak peduli tua atau muda, mereka sungguh berlomba memancarkan cahaya Kristus.  Tidaklah heran betapa aku dahulu seperti telihat lebih mencintai gereja daripada rumah.  Betapa hari-hariku banyak kuhabiskan bersama mereka.

Terkadang aku berpikir, apakah salah berpikir sedikit aneh?  Apakah salah menertawakan sesuatu yang terasa aneh?  Memang sih tidak semua biarawan atau biarawati bersikap seperti itu.  Tapi di parokiku sekarang ya memang seperti itu.  Jadi what's wrong gitu loh......?!!  Mungkin pemikiranku saja yang perlu dibenahi.  Anggap saja memang jamannya sudah beda.  Beda jaman beda kelakuan....hehehe. 

Hanya saja.....ini hanya saja loh ya.....seandainya para biarawati muda itu sedikit lebih bercahaya dan memancarkan aura cinta, mungkin pandanganku atas mereka juga sedikit berbeda.   Seharusnya mereka mengambil spesial kursus "How to smile nicely".  Jadi, senyuman itu bisa spontan terlihat pada saat menyapa umat, tanpa perlu disetel atau diatur.

Ah, bahagianya diriku yang tidak perlu berlatih dalam hal memberi senyum.......ahaiii......!

Pensiun

12 Des 2016

Aku selalu ingin pensiun dari kegiatan gereja.  Memensiunkan diri tepatnya.  Rasanya sudah bukan waktunya lagi untuk kesana kemari dan hidup melulu hanya untuk kegiatan gereja.  Realitanya adalah, sekarang ini, prioritas yang utama adalah hidup untuk keluarga.

Tapi ternyata, pensiun tidak segampang yang kubayangkan.  Aku tidak bisa dengan begitu saja  memensiunkan diri.  Aku tidak bisa dengan begitu saja melarikan diri.  Mau tidak mau aku terus saja terlibat.  Aku tidak sanggup menolak, ketika kehadiranku masih dibutuhkan.  Meskipun hanya sekedar menjadi katekis amatiran di lingkungan.  Menjadi dirigen atau petugas mazmur di paroki.  Atau hanya sekedar masuk ke dalam tim untuk pembinaan babtisan.

Seharusnya aku menolak jika diberikan tugas.  Seharusnya semua sudah harus mulai didelegasikan kepada kaum muda.  Tetapi, lihatlah!  Anak2 muda ini kebanyakan tidak punya rasa percaya diri.  Mereka tidak yakin dengan kemampuannya sendiri.  Jangankan bermazmur di gereja, diminta memimpin doa saja kalang kabut mereka dibuatnya. Tapi itu juga bukan salah mereka semata.  Bisa jadi mereka memang tidak punya 'supporter' untuk melakukan itu semua.

Aku jadi baper. Di satu sisi aku ingin berhenti terlibat.  Di sisi lain,aku memiliki keprihatinan yang sangat dalam terhadap kondisi yang sedang terjadi.  Kondisi di mana semangat menggereja hanya ada di kalangan orangtua.  Sementara orang mudanya, lebih fokus kepada gadget di tangan mereka.

Aku ingin pensiun.  Karena aku merasa bukan lagi menjadi diriku yang dulu.  Semakin tua, pemahamanku tentang beragama terasa semakin berbeda. Kalau dulu aku begitu menggebu-gebu dan cenderung keluar nalar, sekarang mungkin lebih bebas merdeka dalam cara memandang kehidupan.  Lebih bisa melihat Tuhan dalam segala ciptaan.   Berusaha untuk memandang setiap manusia sebagai "manusia" bukan berdasarkan label yang mereka bawa.

Ah.....kurasa aku masih perlu belajar banyak untuk menjadi manusia, yang tahu bagaimana harus memperlakukan Tuhannya.

Suksesi

26 Okt 2015

Adalah hal yang wajar jika suatu saat masa kepemimpinan seseorang harus berakhir.  Wajah lama digantikan dengan wajah baru.  Usia tua digantikan dengan yang lebih muda.  Yang berpikiran 'jadul' digantikan dengan yang lebih "maju".  Bagiku, tidak ada yang mengherankan apalagi meng"aneh"kan. 

Beberapa bulan ini di parokiku terjadi pergantian romo paroki.  Hanya pergantian rutin sebenarnya.  Romo lama diganti dengan romo baru (meskipun berwajah lama).  Yang satu berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya.  Dari sana dioper ke sini.  Sudah biasa seperti itu.  Dan memang harus berjalan seperti itu.  Itulah suksesi dalam Gereja Katolik.

Hanya saja, pergantian kepemimpinan yang biasa2 saja itu, bisa menjadi luar biasa bagi orang2 yang tidak siap menghadapinya.  Orang-orang yang sudah terbiasa dengan gaya romo lama, tiba2 jadi ilfil dengan penampilan dan gaya romo baru.  Manusia-manusia yang terbiasa memandang wajah romo lamanya seperti dewa, seolah melihat hantu jika melihat romonya yang baru.  Ahai.....dan itu terlihat begitu kentara! Perbedaan yang menyolok dan penerimaan yang menohok.  Tidak sulit untuk diterjemahkan.

Sekelompok manusia, yang selama ini terlalu "romosentris", terlihat gamang ketika panutannya berpindah tempat.  Sekelompok manusia, yang selalu bilang "iya", terlihat lunglai ketika romo barunya tidak sesuai harapan.  Sekelompok manusia, yang hanya senang hidup dalam tempurung dan tidak (pernah) mau keluar dari tempat persembunyiannya yang nyaman, serasa mau mati ketika romonya harus berganti.  Sekelompok manusia, yang tidak mau belajar, bahwa dunia itu tidak selebar daun kelor, mulai terlihat aslinya: 'religious' karena romonya. Karena ada maunya.  Bukan karena Junjungan Sejatinya.

Manusia yang hanya relijius karena pimpinannya akan gampang porak poranda saat sang pimpinan menghilang.  Manusia yang hanya relijius karena pamrih, akan gampang menghakimi jika keinginannya tidak dipenuhi.  Dan mereka akan mulai menyebarkan intrik dan gosip.  Mulai membanding-bandingkan.  Mulai memuji sana dan menggunjingkan yang sini.  Mulai mencari teman guna memuluskan ketidakpuasan.  Mulai membenarkan diri sendiri dan menyalahkan banyak orang.  Manusia2 seperti ini, biasanya berbanding terbalik dengan simbol2 relijius yang sering mereka kenakan dan ucapkan.  

Manusia yang sungguh relijius sejatinya harus lebih beriman.  Manusia yang beriman sejatinya harus lebih bisa memandang orang lain dengan kedalaman hati dan jernihnya kasih.  Orang yang sungguh beriman mempunyai hati yang lapang untuk menerima dan memanusiakan manusia lainnya.  Tidak peduli romonya ganti atau tidak, tidak peduli romonya seperti dewa atau seperti hantu, tidak peduli romonya seperti bintang sinetron atau pemain lenong, tidak peduli romonya gaya metal atau keroncong.  Menurutku, jjika mau melakukan sesuatu, ya lakukan saja!  Yang penting adalah bagaimana membuat Yesus senang, bukan romo senang.  Yang penting adalah bagaimana kita merasa gembira dan bahagia ketika bisa melakukan sesuatu untuk Gereja, bukan karena ingin romonya tersenyum dan tertawa bersama kita.

Temans, ingatlah, romo....pastor....biarawan....biarawati.......apapun namanya, mereka juga manusia.  Meskipun secara imani mereka adalah para pekerja di kebun anggur dan seharusnya bisa menjadi panutan, mereka toh tetap manusia yang tidak bisa lepas dari luput dan salah.  Sebagai umat, tentu saja kita tidak bisa mengharap diberikan romo yang sesuai dengan kemauan kita masing2.  Berapa banyak romo yang kita butuhkan jika maunya seperti itu.  Dan tidak bisa dipungkiri, bisa jadi ada juga di antara kita yang pengin punya romo imyut....pinter.......ramah...nggak somsek......!  Terlepas dari semua pengharapan tadi, menurut hemat saya, terima sajalah apa yang ada.  Dengan menerima yang tidak sesuai harapan, di situlah iman kita diuji, sepenuh-penuhnya!  Belajar mencintai, karena Yesus sendiri yang telah memilih mereka untuk menjadi  murid-muridNya.

Semoga dengan ini iman kita semakin dikuatkan.  Cinta kita semakin dilimpahkan.  Dan pemahaman2 yang picik semakin dicerahkan.  Bagi yang mau terlibat di gereja, monggo.  Bagi yang mau duduk manis di rumah ya monggo.  Tidak ada paksaan dalam pelayanan. Semua terserah Anda.  Yang penting hidup itu harus bahagia.   Titik! Jadi tidak perlu dipermasalahkan, siapa yang akan menjadi romo di paroki kita.

Selamat berhari Senin dari kota transitan asap.

Welcome 2011

11 Jan 2011

Melewati beberapa hari di tahun 2011, terasa ada yang beda. Tiba-tiba saja tersadari bahwa si sulung Pilar, di usianya yang sepuluh tahun sudah setinggi diriku dan adiknya Altar sudah bisa mengeja huruf "R" dengan lancar.  Si bungsu Lunar yang biasanya ngompol berkali-kali, beberapa hari ini sudah mulai mengurangi intensitas ompolnya karena kubilang anak yang masih ngompol tidak boleh bersekolah.  Baru tersadar juga bahwa tahun ini aku mulai memasuki usia kepala empat.....:))

Mumpung anak2 sudah bisa diajak "berdiskusi" dan mengeluarkan pendapat, dan suamiku sudah bisa beradaptasi dengan tempat kerjanya yang baru, maka aku sepakat dengan diri sendiri untuk membuat beberapa perubahan di tahun ini :

1.  Melakukan rekonsiliasi
Aku sadar, beberapa tahun terakhir ini hubunganku dengan Tuhan tidak terlalu baik.  Aku banyak membuang-buang waktu dan menghindar dalam berbagai kesempatan untuk lebih mendekatkan diri padaNya.  Intensitas doaku jarang-jarang.  Kualitasnya pun terasa hambar dan kering kerontang.  Membaca Kitab Suci aku enggan.  Mendaraskan ibadat harian apalagi.  Setiap kucoba, pikiranku selalu melayang tak tentu arah.  Aku kehilangan rasa! 

Memasuki tahun ini aku ingin memperbaiki segalanya dari awal.  Mulai menjalin relasi yang baik dengan Tuhan.  Mulai menyunggingkan senyum dalam doa.  Memulai kembali persahabatan kami yang sempat putus karena aku selalu berusaha menghindariNya.
   
2. Terlibat dalam kegiatan Gereja
Meskipun teori lebih mudah diucapkan daripada dilaksanakan, minimal aku akan berusaha untuk terlibat secara aktif dalam kegiatan gereja lagi.  Ya, paling tidak aku bisa melibatkan diri lagi dalam kegiatan komunitas.  Sekalian mengajarkan kepada anak2, bahwa menjadi umat beriman, berarti harus berani menjadi garam dan terang dunia.  Bagaimana mungkin mereka akan menjadi tulang punggung Gereja, jika tidak diperkenalkan dari awal?

("Jadi Bunda, ayo.....jangan ngeles2 lagi ya kalau diminta jadi dirigen!")

3.  Terlibat dalam pendidikan anak-anak
Meskipun klise, tapi bagiku janji seorang ibu tetaplah sebuah pengejawantahan diri yang mau tidak mau harus dilaksanakan.  Memantau perkembangan diri anak2 adalah tanggungjawab semua orangtua.  Mau jadi apa anak kita kelak, itu semua tergantung bagaimana orangtua mengarahkannya.

Awal tahun ini, setelah menjalani 6 bulan masa sekolah yang membosankan, Altar kuliburkan.  Harapan supaya dia mendapatkan pengajaran untuk anak TK A sesuai dengan umurnya tidak kesampaian.  Ternyata sekolahnya hanya menyediakan tempat untuk TK B.  Jadi anak2 TK A digabung dengan TK B.  Tidak banyak waktu untuk bermain dan melakukan pengenalan.  Yang ada tiap hari dijejali dengan berbagai macam PR yang tidak pernah ada habisnya.  Anak lanangku memang bisa menulis, tapi setiap ditanya artinya dia hanya cengar-cengir doang.  Yang aku heran adalah, si Ibu Guru saja tulisannya kayak cakar ayam, bagaimana dia bisa mengajarkan menulis atau membaca dengan benar?

Sebagai konsekuensinya, Altar kuajar sendiri.  Aku rajin hunting buku2 pelajaran untuk anak TK A.  Setiap sore sepulang kerja, kuajak anak2 mematikan TV dan mulai belajar.  Lumayan juga, sekalian mengajar Altar si bontot Lunar bisa ikutan belajar.  Tidak perlu PR, tidak perlu ujian.  Yang perlu adalah, bagaimana caranya mempelajari sesuatu dalam suasana nyaman dan menyenangkan.  Hasilnya, perlahan tapi pasti mereka sudah mulai bisa menghafal huruf2 dan angka2 yang kutunjukkan.

Selagi aku mengajari adik2nya, Pilar bisa mengerjakan PRnya dengan tenang.  Sesekali aku tetap harus siap jadi mentor jika ia menemukan kesulitan.  Padahal kalau dipikir-pikir, pelajaran jaman sekarang beda jauuuh dengan jaman aku dulu.  Jadi mau nggak mau ya emang harus ikutan belajar lagi si emak ini....!

4.  Penghematan di segala bidang
Melihat pertumbuhan anak2 yang makin pesat membuatku harus ekstra keras menabung untuk masa depan mereka.  Jadi, berhemat merupakan hal yang sangat penting untuk segera dilaksanakan. 

-  Jika biasanya setiap istirahat Jumat bisa pergi ke mall dan membeli barang2 yang belum tentu berguna, maka tahun ini harus agak dikurangi dan kalau perlu dihilangkan sama sekali.  Mungkin bisa digantikan dengan ngapdet blog setiap istirahat hari Jumat.  Lumayan, selain bisa menyalurkan ide supaya tidak jadi bisul, catatan di blog bisa jadi menginspirasi orang lain tentang masalah yang sama.

-  Jika biasanya pesen catring untuk makan, tahun ini sebisa mungkin mulai masak sendiri.  Lumayan, dengan sedikit kreatifitas, toh pengeluaran yang diperlukan untuk urusan perut ini bisa dikurangi.  Meskipun tidak banyak jumlahnya, tapi lumayan besar juga perbandingannya jika harus beli makanan jadi setiap hari.

-  Jika biasanya ngemil dan jajan setiap pagi, minimal porsinya agak dikurangi atau dihilangkan sama sekali.  Selain bisa membantu mengecilkan pinggang juga bisa membantu program penghematan.  Uang saku yang tidak terpakai hari itu masuk ke saving box.  Kalau sudah banyak baru dipindahkan ke tabungan.

-  Mulai mengampanyekan gerakan hemat listrik dan hemat air di rumah.  Rajin mematikan peralatan elektronik yang tidak terpakai dan mematikan lampu sebelum tidur.  Memang agak susah karena anak2 terbiasa melihat kami orangtuanya suka pikun dalam memberikan teladan.  Meskipun susah, paling tidak ada kemauan untuk berubah, bukan?

Kurasa itu dulu resolusiku di tahun 2011. Nggak muluk2.  Yang penting ada niat untuk melaksanakannya.  Kalau tidak dimulai sekarang kapan lagi?  Waktu tidak akan bisa diputar ulang.  Pergunakan kesempatan yang ada sekarang sebaik-baiknya.

Yes!  Semangat...!  Semangat.....! 

Welcome 2011

Advent

4 Des 2010

Sama seperti tahun2 sebelumnya Natal selalu menimbulkan sensasi luar biasa.  Tidak saja udara yang menghamburkan aroma surga, tapi munculnya satu kerinduan untuk menjadi manusia yang lebih baik di hari itu.  Yang paling mengharukan adalah adanya kesempatan 4 minggu sebelum Natal untuk mempersiapkan diri.  Masa Advent!  Saat paling menentukan dalam menyambut kedatangan Tuhan.  Saat untuk lebih fokus daam memperbaharui sikap batin dan rohani kita.

Itulah sebabnya Gereja Katolik masih tenang2 saja merayakan masa Advent pada saat gereja2 lain sudah sibuk merayakan Natal  jauh2 hari sebelumnya.  Gereja Katolik sungguh2 ingin menuntun umat pada suatu pemahaman sejati tentang persiapan menyambut kedatangan Sang Juru Selamat. Intinya Natal bukan hanya menjadi ajang perayaan yang identik dengan pesta pora dan seremonial belaka.  Menjadi ajang pesta yang sebentar dilakukan dengan sukacita namun dengan cepat dilupakan karena ternyata dari tahun. ke tahun toh sama saja.  

Bagiku Advent menjadi suatu permenungan rohani yang menakjubkan karena di dalam setiap tahapannya  ada suatu pembelajaran hidup yang bisa dipakai sebagai pedoman dalam menyambut kedatangan Tuhan.  Menjadi suatu kesempatan untuk mempersiapkan diri menyambut Sang Juru Selamat meskipun manusia banyak berlumur dosa.  Menjadi kesempatan untuk tidak menjadi manusia yang "lupa" akan makna Natal yang sesungguhnya.  

Jika Yesus Sang Juru Selamat lahir di kandang hewan, serba sederhana dan penuh dengan permenungan, mengapa harus sibuk merayakan natal dengan penuh kemewahan dan pesta pora bahkan kalau perlu diadakan di hotel2 berbintang?  Setelah itu...what's up?  Jika Natal dirayakan jauh 2 hari sebelumnya apakah Yesus tidak menjadi bayi prematur nantinya?  Setelah itu...apa yang akan dirayakan pada hari H-nya?

Aku berharap Natal kali ini tetap mengalirkan irama yang sesungguhnya.  Irama kesederhanaan, irama cinta kasih, irama berbagi, irama berempati dan irama pengampunan.  Sesungguhnya Yesus tidak lahir di tengah hiruk pikuk pesta apalagi di kasur empuk hotel berbintang.  Yesus sudah memiih tempatNya sendiri.  Ia memilih untuk lahir di dalam hati setiap umat manusia yang merindukanNya.
Selamat menjalani masa Advent......!

Kaum Muda dan Semangat Menggereja

24 Jul 2010

Sebagai orang yang pernah muda dan menjadi bagian dari Muda Mudi Katolik (Mudika) maupun Karyawan Muda Katolik (KKMK), aku sungguh prihatin dengan dinamika kehidupan menggereja kaum muda sekarang ini.  Bahkan  sering dibikin "gemas" dengan tingkah pola sebagian besar dari mereka yang kurang percaya diri dalam memperlihatkan jati diri  sebagai bagian dari Gereja Kristus sendiri.

Bukan hal aneh lagi jika dikatakan bahwa mayoritas Gereja Katolik  sekarang ini "kering" dengan orang-orang muda yang berkualitas dan berkomitmen tinggi dalam mengimplementasikan keyakinan imannya.  Yang terlihat hanyalah sekumpulan orang muda yang punya kemauan tinggi tapi miskin keberanian untuk menunjukkan kemampuan dan talenta yang dimilikinya.  Jika ditantang melakukan sesuatu jawabnya sudah bisa ditebak : tidak bisa!  Tidak bisa dan tidak mau tak ada bedanya.  Dua2nya sama2 memperlihatkan bahwa mereka hanya mau duduk diam dan menjadi pendengar.  Bukan pelaku!  Itu sebabnya gereja lebih banyak dipenuhi oleh orang tua dari pada kaum muda.

Kurasa hal ini patut menjadi perhatian para petinggi gereja.  Jika kaum muda merupakan tiang dan pondasi Gereja, mengapa mereka lebih suka "ngumpet" dan alergi terhadap kehidupan menggereja?  Mengapa mereka lebih suka dengan acara2 gereja yang hingar bingar dan menjanjikan kesenangan sesaat daripada melakukan kegiatan yang  membawa manfaat selamanya?  Hal-hal apa yang perlu dilakukan untuk bisa  menumbuhkan kecintaan dan keyakinan mereka akan Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik?

Suatu hari aku bertanya kepada seorang muda Katolik, tentang perasaannya selesai mengikuti misa pagi.  Jawabnya pendek saja :  "Tidak ada!  Yang ada hanyalah rasa bosan karena harus mengikuti rutinitas yang itu2 saja.  Masih mending di gereja lain.  Suasana ibadatnya lebih meriah dan menggembirakan hati".

Aku terpekur.  Bisa jadi sebagian besar OMK berpikir seperti itu.  Misa hanya dianggap sebagai suatu rutinitas.  Intinya ia tidak menemukan apa2 di sana.  Padahal bagi orang Katolik, misa menjadi bagian yang sangat penting, karena di dalamnya bisa bertatap muka dengan Kristus sendiri.  Bisa bersatu dengan Kristus sendiri dan bisa menjadikanNya sebagai sumber kekuatan dalam menghadapi hidup sehari-hari.  Kekuatan inilah yang seringkali menjadi "senjata" untuk berani dan mau melakukan banyak hal bagi tumbuh kembang Gereja.

Jika aku masih muda dan ditanya bagaimana caraku untuk bisa terlibat dalam kegiatan menggereja, maka bisa jadi tips2 berikut ini bisa membantu :

Pertama :
Sebisa mungkin sempatkanlah ikut misa.  Minimal seminggu satu kali.  Persatuan dengan Yesus akan menjadi kekuatan yang mengagumkan dalam menjalani aktifitas sehari-hari.  Dengan meningkatkan frekuensi pertemuan dengan Yesus otomatis rasa cinta akan GerejaNya akan bertumbuh dan berkembang tanpa disadari.  Berdoa saja tidak cukup.  Yesus sendiri yang mengatakan jika ada lebih dari dua orang berkumpul atas namaNya, Dia ada di tengah-tengah mereka.  Bersekutulah dengan umat lainnya dalam misa kudus.

Kedua :
Jangan sok jaim dan malu2 bertanya kegiatan apa saja yang bisa diikuti di gereja.  Selain misa yang memang diwajibkan oleh Gereja, pasti ada banyak kegiatan yang bisa diikuti di Gereja.  Bisa Legio Maria, THS/THM, Mudika, KKMK, Misdinar, dll.  Tanyakan pada orang yang memang tahu akan adanya kegiatan tersebut.  Jangan bertanya pada orang yang tidak tahu atau orang yang tahu tapi tidak mau tahu.  Sesudah itu bergabunglah!  Jangan menunggu jatuhnya ilham dari langit atau nunggu  di"kejar2" pastor baru ikutan.  Be active!  Sekalian boleh berharap, siapa tahu ketemu jodoh di gereja.

Ketiga :
Jangan takut dicap "sok suci" dan "belagu".  Mereka yang mencap demikian biasanya adalah orang2 iri hati dan sebenarnya pengin gabung tapi malu akibat ke"ember"an mulut mereka.  Mereka berusaha menutupi kekurangan mereka  dengan berlaku sirik dan mencari-cari kejelekan orang lain.  Jika bertemu orang2 modelan demikian jangan takut.  Maju terus pantang mundur!

Keempat :
Beranilah untuk mengeluarkan uneg2 biarpun itu menyakitkan.  Uneg2 yang dipendam bisa menimbulkan jerawat dan tak jarang membuat bisulan.  Jika meletus sakitnya bukan kepalang.  Bicarakan dan diskusikan dengan orang yang berkompeten di dalam Gereja apakah ide2 cemerlang untuk memajukan kaum muda terhambat/ terganjal dengan aturan2 dalam Gereja atau tidak.  Jika alasan penolakan itu jelas ya jangan ngambek.  Resiko beragama Katolik adalah mesti mau mematuhi peraturan yang ada di dalamnya.  Cobalah dengan ide2 yang lain.  Siapa tahu ide yang baru lebih bisa diterima oleh semuanya.

Kelima :
Banyak2lah menambah ilmu tentang kekatolikan.  Beriman boleh2 saja.  Tapi beriman dengan dasar2 yg "sahih" akan lebih bagus lagi.  Tidak hanya berdasarkan kata si Ini atau si Anu.  Banyak2lah membaca dari berbagai sumber.  Jangan hanya percaya satu sumber saja.  Menjadi Katolik itu susah.  Banyak tantangannya.  Banyak halangannya.  Tidak bisa mengharapkan bantuan dari orangtua saja.  Atau pastor paroki saja.  Atau para biarawan biarawati saja.  Semua tergantung diri sendiri untuk mulai menambah-nambah ilmu.  Referensinya banyak kok.  Di toko buku, di internet, di perpustakaan seminari (yg punya kenalan orang seminari), di pastoran, di kehidupan.  Intinya jangan malas untuk BELAJAR.

Keenam :
Jangan malas berdoa!  Semakin sering menjalin komunikasi yang baik dengan Tuhan, hidup akan semakin dikuatkan.  Ingat, satu2nya yang tidak akan kabur di saat kita susah atau senang adalah Tuhan.  Relasi yang baik dengan Tuhan akan memperlancar semua harapan.

Tips di atas adalah sekedar pandangan dari seorang yang pernah muda sepertiku.  Bisa jadi tidak semuanya benar meskipun mayoritas "menyatakan" demikian.  Jika jamanku dulu selalu dan senantiasa ada "orang2 pilihan" dalam Gereja yang bisa dijadikan panutan, kurasa tidak ada yang salah jika kaum muda sekarang ini pun menuntut demikian.   Perlu orang2 dengan kapabilitas mengagumkan yang bisa dijadikan contoh dalam Gereja.  Entah itu pastor parokinya, entah itu para fraternya, susternya, diakonnya, dewan parokinya, bahkan para orangtuanya.

Jadilah teladan untuk kaum muda dan akan menjadi demikian adanya mereka!

Pentakosta - 23 Mei 2010

24 Mei 2010

Ada yang berbeda pada perayaan Pentakosta tahun ini.  Hari itu paroki baruku memulai peletakan batu pertama pembangunan gereja paroki.  Kurang lebih tujuh tahun setelah resmi menjadi paroki, akhirnya kami akan memiliki gedung gereja sendiri.  Tentu saja ini semua terselenggara berkat kerjasama, jerih payah dan usaha umat bersama.

Latar belakang umat yang bisa dikatakan berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah pada awalnya membuat panitia pembangunan gereja agak ragu.  Tapi akhirnya semua bisa diatasi dengan adanya beberapa gelintir umat "bonek" yang dengan antusias berusaha mencari dana.  Usaha menggalang dana lewat kotak 1000 yang dibagikan di tiap keluarga paling tidak membuat dana bisa terkumpul sedikit demi sedikit.  Dengan usaha, semangat dan doa, mencapai puncaknya hari itu dengan upacara peletakan batu pertama oleh bapa uskup Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD.

Bagaimanapun gedung gereja yang bagus tidak akan berarti apa-apa tanpa adanya umat yang partisipatif.  Sebagus apapun gedung gereja yang terbangun, akan menjadi sia-sia jika tidak diimbangi oleh semangat umat dalam membangun iman.  Apalah artinya gedung gereja yang megah, jika umat hanya sekedar numpang lewat.  Ke gereja hanya karena ikut rutinitas.  Datang misa dan kemudian pulang.  Bahkan ada yang datang ke gereja hanya untuk mengantar anak dan istrinya saja.  Sesudah itu dianya sendiri pulang.  Ini mengingatkan aku pada seorang umat yang pernag "nyaleg" dan berslogan bahwa ia berkarya bagi gereja dan negara.  Sementara aku tidak pernah melihatnya ikut misa.  Sesekali  ia datang hanya untuk mengantar anak dan istrinya.  Jadi apa maksudnya berkarya untuk gereja dan negara?

Aku berharap, dengan dimulainya pembangunan gereja paroki yang baru, semangat umat juga diperbarui.  Dibutuhkan banyak umat dengan ide brilian tapi "bonek".  Berani mengambil keputusan dan berani bereksperimen.  Ide pengumpulan sumbangan lewat kotak 1000 adalah ide yang luar biasa.  Minimal dengan ide tersebut, sekarang ini kami telah menuai hasilnya, meskipun belum sempurna.

Harapanku, doaku, semua mimpi kami sebagai umat paroki baru, segera menjadi nyata.  Semoga dengan dibangun gedung gereja baru, kami semakin semangat dalam mewartakan kasih, dan senantiasa terpanggil untuk bisa menjadi garam dan terang dunia.  Amin.

Note :
* Kotak 1000 :  Setiap keluarga diberikan satu kotak terbuat dari karton.  Dengan asumsi setiap hari dia secara rutin memasukkan uang minimal 1000 rupiah, maka dalam sebulan minimal terkumpul 30000 rupiah.  Jika dikalikan sekian KK hasilnya lumayan juga.  Lebih lumayan lagi jika ada yang berkenan memberikan derma lebih dari yang ditentukan.

Minggu Palma 2010

31 Mar 2010

Perayaan Minggu Palma di parokiku kali ini dihadiri oleh begitu banyak umat.  Maklum saja, misa difokuskan hanya 1 kali dari yang biasanya diadakan 3 kali.  Tidak heran jika satu jam sebelumnya umat sudah berduyun-duyun datang.  Jumlahnya membludak pada saat misa dimulai.  Takut tidak kebagian kursi.

Setiap minggu palma selalu dimulai dengan upacara perarakan.  Seperti tahun-tahun sebelumnya acaranya dimulai dari gua Maria yang terletak tidak jauh dari gereja.  Hanya beberapa meter.  Masalahnya karena banyak orang yang merasa takut tidak kebagian kursi, maka mereka tidak mau mengikuti upacara dari gua Maria, tapi malah langsung duduk-duduk manis mencari tempatnya masing-masing di gereja.  Dan lucunya, meskipun berkali-kali diumumkan untuk segera menuju ke gua guna mengikuti perarakan, dengan bebalnya sebagian umat lebih memilih untuk menebalkan telinga dan pura2 tuli daripada ujung2nya nanti tidak kebagian kursi.

Sejak awal aku sudah ngomel ke suamiku (yang sudah jelas2 bukan panitia), kenapa panitia paska  selalu tidak pernah bisa mengantisipasi kehadiran umat.  Tidak pernah belajar dari pengalaman.  Sebenarnya dengan mengetahui misa diadakan hanya 1 kali saja, seharusnya panitia sudah bisa mengantisipasi dengan menyediakan kursi lebih dari biasanya. Jadi tidak ada umat yang harus berdiri selama misa yang memakan waktu agak lama dari biasanya.

Sungguh sangat disayangkan, karena ternyata misa minggu palma yang seharusnya sakral dan berlangsung dengan khidmat malah dipenuhi dengan gerutuan, omelan dan keluh kesah sebagian umat karena kebanyakan kursi diduduki oleh anak2 kecil yang notabene mereka tidak akan bisa duduk diam di kursinya masing2.  Ujung2nya kursi hanya ditempati oleh tas orangtua dan "cemilan" anak2 sementara banyak lagi yang harus berdiri di tengah sengatan panas matahari.

"Seandainya saja setiap minggu adalah minggu palma!" kata pastor.  "Sungguh sangat menyenangkan melihat umat yang membludak, bersemangat, ditambah dengan koor yang indah dan petugas yang penuh dedikasi.  Sayangnya minggu palma datang hanya setahun sekali!"

Di tengah acara misa yang bisa jadi masih banyak kekurangan di sana sini, aku bisa merenungkan satu hal :  Bisa jadi suasana orang Israel yang mengelu-elukan Yesus dulu ya seperti ini.  Sangat kontradiktif.  Sebentar mengelu-elukan Yesus, sebentar kemudian berteriak sekeras mungkin "salibkan Dia!".  Ini sama dengan ratusan umat yang datang ke gereja untuk mengikuti misa, tapi berdiri sebentar saja untuk mengikuti perarakan begitu merasakan keberatan.  Takut lelah.  Takut capek tidak kebagian tempat duduk.  sedikitpun tidak ada keinginan untuk "sungguh" ingin merasakan penderitaan Kristus.

Itu mungkin sebabnya mengapa Yesus tidak meminta pertolongan manusia untuk membawanya masuk ke dalam kota Yerusalem.  Ia malah lebih suka meminta pertolongan seekor keledai.  Mungkin karena yang namanya manusia itu tidak bisa dipercaya.  Mereka adalah makhluk hipokrit yang selalu mencari celah bagaimana caranya menyenangkan diri mereka sendiri.  Selalu berpamrih.  Sedangkan keledai biarpun kata orang otaknya dodol tapi mereka tidak pernah berpamrih.  Tidak pernah menuntut jasa atas apa yang telah dilakukannya.

Sungguh sangat ironis sekali!  Yesus lebih suka minta tolong keledai daripada minta tolong kita!  Barangkali bagus juga jika sekali-kali kita berhenti "meminta, menyuruh, memerintah, memaksa" Yesus melakukan sesuatu untuk kita, dan menggantinya dengan pertanyaan : "Tuhan, apa yang Kau butuhkan dari aku?"

Masalahnya adalah : Sanggupkah kita mengatakan demikian???

Aku dan Parokiku

23 Feb 2010

Sebagai bagian dari gereja, otomatis aku menjadi bagian dari anggota keluarga Allah secara nyata.  Karena menjadi bagian dari GK (gereja katolik), secara tidak langsung  aku terikat pada susunan hirarki di mana pucuk pimpinan tertinggi di dunia ini ada di tangan Paus dan pucuk pimpinan terendah ada di tangan romo parokiku.  Hanya saja dalam kenyataannya sekarang ini, aku tinggal di suatu paroki yang menurutku sungguh aneh tapi nyata.

Sebagai  paroki yang baru saja dilahirkan, seharusnya ini menjadi momen penting bagi seluruh umat untuk memulai segalanya dengan baik dan benar.  Baik dan benar dalam susunan kepengurusan, baik dan benar dalam pelaksanaan liturgi di gereja, baik dan benar dalam penyusunan masalah administrasi di paroki, baik dan benar dalam masalah katekisasi umat, baik dan benar dalam mengikuti perayaaan ekaristi sesuai dengan TPE yang baru, baik dan benar dalam hubungan antar umat satu sama lain, baik dan benar dalam mengusahakan dan mengupayakan keberadaan paroki ini sehingga bisa menjadi suatu paroki yang bisa dibanggakan.

Tapi sayangnya semua keinginan tersebut hanya menjadi sekedar keinginan yang tidak jelas mau dilaksanakan kapan.  Yang kulihat adalah, paroki balita ini sungguh tidak jelas arahnya mau dibawa kemana.  Dengan umat yang berasal dari kalangan menengah ke bawah, dan dengan pemahaman hidup menggereja yang masih minim, bisa dibilang jalannya masih tertatih-tatih.  Masih perlu dituntun.  Masih perlu disentil telinganya supaya mengerti.  Masih perlu ditunjukkan rambu2 supaya tidak hilang arah dan salah tujuan.  Sayangnya "tukang" penunjuk arahnya ini yang bisa dibilang nggak ada.  Romo parokinya kemana, umatnya kemana.  Tidak  nyambung!

Aku pribadi tidak mengerti, mengapa romo parokiku terlalu cuek.  Dia bosan mengurus para domba yang susah diatur ini, atau memang beliau tidak mau tahu situasi dan kondisi yang terjadi?  Setahuku romo parokiku tipe perfeksionis yang selalu menuntut umat untuk begini dan begitu.  Tapi setahuku, belum pernah sekalipun ia "menegur" segala macam bentuk kesalahan/ pelanggaran yang terjadi di dalam pelaksanaan liturgi di gereja.  Di matanya, segala bentuk pelanggaran itu adalah hal yang wajar.  Padahal, bagaimana kita bisa tahu dan paham mana yang benar dan mana yang salah jika tidak ditunjukkan?

Sebagai seorang domba, aku suka keki dengan romo2 di parokiku.  Seolah-olah mereka bukan gembala. Kalaupun terlihat seperti gembala ya pada saat mimpin misa saja.  Apakah karena mereka sendiri marah kalau dikritik umat sehingga mereka pun tidak mau membetulkan kesalahan umat?  Takut nggak didengar ama umatnya.  Bagaimana umat bisa tahu itu suatu kesalahan jika tidak pernah diberitahu bahwa itu salah? 

Contoh nyata saja, seharusnya dalam dua tiga tahun belakangan ini umat sudah paham dan mengerti pelaksanaan tata perayaan ekaristi (TPE) yang baru.  Tapi sejauh ini di parokiku semuanya masih amburadul.  Biarpun sudah disosialisasikan di komunitas-kokomunitas, tapi tidak pernah disosialisasikan di gereja pada saat misa.  Itu sebabnya sekarang ini, kalau misa, ada umat yang seharusnya berdiri malah duduk, yang seharusnya berlutut malah berdiri, yang seharusnya duduk malah mondar-mandir kemana-mana.  Coba kalau sejak awal romo parokinya aktif memberitahu dan mengingatkan sampai betul2 dingat oleh umat.  Pasti nggak akan kacau suasana misa tiap hari minggu.  Belum lagi urusan koor yang suka bikin nada slendro sendiri.  Nggak nyambung sama not yang tercantum di buku/ teks.

Sebenarnya di parokiku banyak bertebaran tenaga2 bertalenta.  Mayoritas punya background dalam pelayanan di gereja tempat asal masing-masing.  Hanya saja melihat respon dari romo paroki yang kurang "tanggap" maka hanya berhenti sebatas datang ke gereja saja.  Tidak ada keinginan untuk berbuat sesuatu bagi paroki yang masih baru ini.  Tidak heran jika yang muncul kemudian adalah orang2 dengan kapasitas yang penting mau.  Sementara orang yang mau ini belum tentu tahu.  Kalaupun dikasih tahu biasanya tidak mau tahu.  Apalagi kalau disuruh mencari tahu.

Bagaimanapun juga aku adalah bagian dari paroki.  Bagian dari sistem hirarki GK.  Jadi mau tidak mau, setuju atau tidak setuju, paling tidak aku harus ikut berperan aktif di dalam gereja. Minimal di wilayah yang lebih sempit yaitu di komunitas.  Lewat komunitas inilah, aku ingin menimba pelajaran agar bisa memahami dengan kacamata iman mengapa kalau mau mengikut Yesus  harus berani menyangkal diri dan  memikul salib.

Menjadi domba.....why not?

Pemenang atau Pecundang?

29 Des 2009

Sering dalam hidup ini, kita mengalami suatu peristiwa yang sungguh tidak diharapkan. Tapi apa mau dikata, peristiwa yang sungguh tidak diharapkan itu, terkadang malah mampir dan singgah di rumah kita, mencakar dan melukai dengan jari jemari yang runcing, tajam dan menyakitkan. Pada akhirnya, kita hanya mampu berteriak ,"Why, God?"

Banyak orang terluka, malah menjauh dari obat yang bisa menyembuhkan lukanya. Banyak orang tersesat, malah lari dari lampu penerang yang bisa menunjukkan jalannya. Banyak orang hilang harap, malah menghindar dari berbagai asa yang mendekat di hidupnya. Hingga akhirnya, yang tertinggal hanyalah rasa benci, frustasi, hilang iman dan harapan, bahkan hilang kendali atas diri sendiri.

Seorang teman begitu terluka ketika anak sulung kesayangannya tiba-tiba dipanggil Tuhan di usia yang masih sangat muda. Mereka berdua, suami dan istri, sama2 terluka. Mereka berdua sama2 merasa bahwa Tuhan sungguh tidak adil. Sang ayah menyalahkan si ibu mengapa nggak becus mengurus anak saat si ibu ada di rumah. Sang Ibu menyalahkan si ayah yang lebih mementingkan kerja di saat anak jatuh sakit dan harus segera mendapatkan perawatan dokter. Kedua belah pihak saling menyalahkan. Saling menghakimi. Saling menyimpan luka tanpa ada yang mau jadi seorang "pemenang" dengan saling memaafkan.

Yang jadi pertanyaan adalah, sampai kapan luka itu akan menganga? Apakah harus menunggu sampai bernanah baru mencari obatnya? Sampai kapan mesti menyimpan luka? Sehari? Dua hari? Tiga hari? Atau sampai selama-lamanya? Lalu di manakah mesti menggantungkan harap jika di setiap sudut hati hanya ada rasa marah, benci, frustasi dan putus asa? Lalu di manakah mesti menyandarkan duka jika tidak ada salah satu pihak yang bisa menjadi pelipur lara?

Andai saja bisa memaafkan diri sendiri. Andai saja bisa berdamai dengan diri sendiri. Bisa jadi akan ada pihak yang kuat dan akan bertahan sebagai pemenang. Ketika hidup tak lagi menyenangkan untuk dijalani. Ketika hari2 terasa begitu pedih dan menyayat hati. Ketika kegelapan seolah tak kunjung beranjak dari muka bumi. Bukankan selalu ada kesempatan untuk memperbaiki diri? Selagi masih hidup dan bernafas, bukankan selalu ada kesempatan untuk menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya?

Keikhlasan, kerendah-hatian, pertobatan, adalah salah satu obat mujarab agar bisa berdamai dengan diri sendiri. Selagi bisa memaafkan dan berdamai dengan diri senidiri, otomatis jalan untuk memaafkan dan berdamai dengan sesama akan dilapangkan. Jika bisa memaafkan dan berdamai dengan sesama, maka jalan pengampunan dan kedekatan dengan Tuhan akan dilancarkan. Semuanya saling berkaitan satu sama lain. Saling tergantung satu sama lain.

Jadi, akankah kita menjadi seorang pemenang atau pecundang? Pecundang adalah orang yang tidak berani untuk bangkit dari keterpurukannya dan akan selalu bersembunyi di kegelapan dengan menyimpan kesalahan banyak orang, bahkan kesalahannya sendiri. Sementara pemenang adalah orang yang berani menghadapi dan menjalani setiap hari baru, dengan semangat dan pengharapan yang juga baru. Sang pemenang adalah orang yang tidak pernah berhenti belajar memperbaiki diri sendiri dan berusaha menjadikan hidupnya menjadi lebih baik dan lebih indah dari hari2 sebelumnya.

Selanjutnya terserah Anda....^=^
* It's my hope in the new year
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS