Merayakan Minggu Palma Dalam Diam

17 Apr 2025

Minggu, 13 April 2025

Ikut misa yang jam enam pagi untuk merayakan Minggu Palma.  Meskipun telat untuk diceritakan, tetapi tetap kutuliskan  karena sayang kalau dilewatkan begitu saja.  Namanya juga event satu tahun sekali.  Yang namanya perasaan, kalau tidak segera diungkapkan dengan kata-kata, hanya sekedar menjadi angin lalu belaka karena akan segera dilupakan.

Rencananya mau misa malam minggu.  Tapi apa daya malesnya luar biasa karena sepertinya mau turun hujan.  Padahal sudah mandi, sudah siap-siap ganti baju.  Kayaknya lebih enak mlungker lagi di rumah sambil nonton Netflix daripada keluar hujan-hujan.  Endingnya esok hari ya harus siap bangun pagi-pagi. Masak nasi dulu untuk makan anabul, rebus air untuk mandi, sekalian bikin sarapan ekstra kilat untuk berdua: segelas kopi hitam cap Kapal Api.  Meskipun ada aturan untuk berpuasa satu jam sebelum misa, tetapi nggak afdol rasanya kalau nggak ngopi dulu, meskipun hanya sekedar basa basi dan numpang lewat di mulut saja.

Karena misa di paroki dijadwalkan ada tiga kali, maka misa Minggu Palma jam enam pagi tidaklah terlalu heboh dan uyel-uyelan seperti yang sudah-sudah.  Suasana tenang, syahdu dan penuh penghayatan.  Hanya ada insiden kecil ketika ada bapak-bapak prodiakon yang terlalu "rajin" memberkati daun-daun palma, meskipun Romo belum melakukan berkat pembuka.  Sampai kejar-kejaran dengan prodiakon lainnya dan dilihatin oleh umat yang hanya bisa ngangak-ngangak.  Bingung melihat adegan yang terjadi di depan mata.  Kalau aku positif thinking sajalah.  Mungkin bapak itu tidak sempat ikut gladi bersih atau bisa jadi beliau lagi banyak pikiran.  

Karena setelah misa jam enam akan ada lagi misa jam sembilan, maka misa berlangsung agak lebih cepat dari biasanya.  Homili yang biasanya panjang-panjang sepanjang sungai Bengawan Solo kali ini menjadi lebih singkat dari biasanya.  Jam tujuh lewat lima belas menit semua sudah selesai komuni.  Tapi ternyata pengumuman paroki astaga naga banyaknya.  Lebih-lebih dari homili saja panjangnya.  Semua dibacakan.  Semua diumumkan.  Padahal di depan ada papan pengumuman, dan setiap Minggu pengumuman paroki dalam bentuk PDF juga dibagikan Komunitas Basis masing-masing.  Tepok jidatlah pokoknya.


Terlepas dari semua itu, aku merasa menjadi seperti orang-orang Yahudi.  Kemarin-kemarin dengan lantang menaikkan puja dan puji bagi Yesus, tetapi dalam tempo yang sesingkat-singkatnya dengan mudah bisa menghianati Dia.  Membayangkan diriku sendiri bisa berada di posisi yang sama dengan mereka.  Ketika segala keinginan dan kenyataan bertolak belakang, kesedihan dan rasa kecewa seringkali menjadi tolak ukur untuk menghindari Dia.  Menghilang dari pandanganNya.  Bahkan rela berhianat hanya karena merasa tidak akan mendapatkan apa-apa.  Ketika iman hanya berisikan pamrih, maka yang tersisa hanyalah rasa duka dan kecewa.

Daun Palma.  Perarakan.  Sorak sorai.  Puja puji.  Semuanya akan terhenti hanya dalam hitungan hari.  Semua yang berarak akan mencaci maki.  Semua yang memuji akan menuntut mati.  Semua yang berpamrih, hanya akan mencintai diri sendiri.  

Semua perjalanan ini, bagi sebagian orang, pada akhirnya adalah kesempatan untuk berbenah dan menyembuhkan luka.

SELAMAT MERAYAKAN MINGGU PALMA

Rabu Abu, 5 Februari 2025

7 Mar 2025

 

 ===============

Mat 6:1"Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga.

Mat 6:2Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.

Mat 6:3Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu.

Mat 6:4Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu."

Mat 6:5"Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.

Mat 6:6Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.


Mat 6:16"Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.

Mat 6:17Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu,

Mat 6:18supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu."

 ==================================

Pernahkah kamu merasa, ketika tiba-tiba jenuh dengan segala sesuatu dan ingin menghilang sejenak dari hidupmu?  Pernahkah kamu merasa, ketika  hati tiba-tiba seperti tertindih batu, dan engkau dengan susah payah ingin menghempaskannya?  Pernahkah kamu merasa, ketika tiba-tiba seolah hilang segala indra, dan hanya ingin tenggelam dalam keheningan nyata?

Rabu Abu yang selalu melow.  Selalu menimbulkan daya magis untuk mencari dan mencari arti diri yang sesungguhnya masih meragu.  Untuk siapakah aku berpuasa, dan untuk apa?  Mengapa aku berpuasa dan apakah memang demikian adanya?  Jika aku berpuasa untuk menyenangkan egoku, atau sekedar demi memenuhi kewajiban agamaku, lantas apa gunanya aku berpuasa?  Bukankah berpuasa harusnya muncul dari hati yang mencinta?  Karena aku mencintaiMu maka aku mengakui salahku dengan menjalani puasa dan pantang, supaya aku bisa semakin  mencintaiMu dalam diri sesama yang ada di sekitarku.

Dua hari yang lalu aku mengikuti misa Rabu Abu di paroki. Misa yang menurutku sedikit menjadi agak dramatis akibat kurangnya persiapan yang memadai.  Jumlah umat yang membludak tidak diimbangi dengan jumlah kursi yang tersedia sehingga banyak umat yang harus berdiri sepanjang misa.  Belum lagi ada beberapa petugas liturgi yang sepertinya asal-asalan dalam mempersiapkan diri.  Mungkin karena dipikir hanya sekedar misa Rabu Abu sehingga tidak perlu totalitas yang tinggi.  Misa yang harusnya berlangsung dengan penuh khidmat akhirnya harus diselingi dengan banyak gerutu.  Dan pada akhirnya aku malah jadi terlihat seperti orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang hobinya mengritik kekurangan orang lain dalam topeng kesucian palsu.  Rabu Abu seolah hanya menjadi ritual basa basi dari waktu ke waktu.

Aku pulang dengan membawa berjuta pertanyaan berkecamuk di kepala. Dan kepala kosong itu menjadi penuh saat menuntut jawaban utuh.  Apakah puasa dan pantang dilakukan hanya untuk mendapatkan pahala?  Apakah puasa dan pantang dilakukan hanya supaya doa-doa dikabulkan?  Apakah puasa dan pantang dilakukan hanya untuk sekedar ikut-ikutan?  Apakah puasa dan pantang dilakukan hanya sekedar untuk menyenangkan Tuhan?  Apakah Tuhan butuh disenangkan?  Mengapa Tuhan butuh untuk disenangkan?  Bukankah Tuhan adalah Yang Maha Besar dan Maha Tahu?  Terkenang kata seorang Romo dalam kotbahnya di Jogja waktu itu.  Puasa dan pantang tanpa disertai dengan pertobatan adalah sia-sia.  Pertobatan tanpa disertai aksi nyata juga demikian adanya. Semuanya adalah sia-sia.  Dan hanya akan menjadi kesia-siaan semata.

Perubahan hidup, meskipun terlihat kecil dan tidak berarti, tetap adalah perubahan.  Intinya adalah, beranikah aku untuk berubah?  Berubah dari hal yang tidak baik menuju kepada hal-hal yang baik.  Berpuasa dan berpantang bukan karena kewajiban.  Bukan karena ikut-ikutan dan ingin dilihat orang.  Bukan karena mengharap imbalan.  Tetapi berpuasa dan berpantang karena cinta.  Karena cinta aku ingin berubah. Karena cinta aku rela berkurban dan berderma.  Karena cinta aku ingin puasa dan pantangku menjadi indah.  

Semoga Rabu Abu tahun ini, menjadi awal untuk kembali menata hati.  Amin.

Kiat Menghilangkan Kesombongan Rohani

15 Feb 2025

Foto dari Pexel

Mrk 8:1Pada waktu itu ada pula orang banyak di situ yang besar jumlahnya, dan karena mereka tidak mempunyai makanan, Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata:

Mrk 8:2"Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan.

Mrk 8:3Dan jika mereka Kusuruh pulang ke rumahnya dengan lapar, mereka akan rebah di jalan, sebab ada yang datang dari jauh."

Mrk 8:4Murid-murid-Nya menjawab: "Bagaimana di tempat yang sunyi ini orang dapat memberi mereka roti sampai kenyang?"

Mrk 8:5Yesus bertanya kepada mereka: "Berapa roti ada padamu?" Jawab mereka: "Tujuh."

Mrk 8:6Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di tanah. Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya untuk dibagi-bagikan, dan mereka memberikannya kepada orang banyak.

Mrk 8:7Mereka juga mempunyai beberapa ikan, dan sesudah mengucap berkat atasnya, Ia menyuruh supaya ikan itu juga dibagi-bagikan.

Mrk 8:8Dan mereka makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, sebanyak tujuh bakul.

Mrk 8:9Mereka itu ada kira-kira empat ribu orang. Lalu Yesus menyuruh mereka pulang.

Mrk 8:10Ia segera naik ke perahu dengan murid-murid-Nya dan bertolak ke daerah Dalmanuta.

===========================================================================

Mengapa ada banyak orang yang ketika merasa dekat dengan Tuhan, malah menjauh dari sesama?  Mengapa ada banyak orang yang ketika merasa dekat dengan surga, malah menjadikan hidup seperti neraka?  Mengapa ada banyak orang yang suci dalam berkata-kata, tetapi kelakuannya berbanding terbalik dengan kata-kata yang diucapkannya?

Aku kenal beberapa orang, yang kehidupan beragamanya boleh dibilang sangat religius.  Rajin ke gereja, tidak pernah ketinggalan kegiatan rohani, tapi bicaranya "tinggi" sekali.  Selalu merasa lebih baik dari orang lain.  Setiap mengeluarkan kata-kata dari mulutnya selalu terasa merendahkan.  Semua topik pembicaraan selalu berputar-putar tentang dirinya.  Solah-olah orang yang tidak serajin dia tidak layak di hadapan Allah.

Foto dari Pexel
 

Memandang orang-orang seperti itu jujur saja membuatku takut.  Takut kalau aku juga memiliki kecenderungan yang sama.  Sama-sama suka meninggikan diri sendiri dan tanpa sadar jadi suka merendahkan orang lain.  Merasa spesial dan orang lain tidak demikian.  Merasa paling hebat dan orang lain bukan levelnya.  Menurutku ini adalah ciri-ciri dari kesombongan rohani.  Kesombongan rohani yang sejatinya harus dihindari oleh siapa saja karena bisa menjadi bumerang di suatu hari nanti.

Lalu bagaimana cara menghilangkannya? Berikut kiat-kiat menghilangkan kesombongan rohani yang sedikit demi sedikit mulai kulakukan dalam hidupku sekarang ini.

Sadar Diri

Menurutku sadar diri itu perlu.  Ketika memutuskan untuk terlibat aktif dalam kegiatan rohani, pastikan bahwa itu adalah sebuah keputusan dari diri sendiri.  Bukan karena disuruh orang lain, atau karena merasa tidak enak dengan mereka.  Sadar bahwa seaktif apapun kita, tetap saja kita adalah manusia lemah.  Akan selalu ada celah untuk melakukan kekhilafan dan salah.  Sehari-hari berada di gereja tidak otomatis akan menjadikan kita malaikat.  Selalu sadar bahwa diri ini adalah manusia biasa yang masih berpijak pada tanah.  Manusia berdosa yang masih perlu banyak untuk berbenah.

Memiliki Empati

Semua orang bisa bersimpati atas suatu kejadian yang menimpa orang lain.  Tapi tidak semua bisa berempati.  Memiliki empati artinya bisa memahami dan berbagi perasaan dengan orang lain.  Mampu melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain, dan membayangkan diri berada di posisi mereka. Orang yang memiliki empati tidak akan mudah menghakimi.  Selalu akan menelaah permasalahan terlebih dahulu tanpa didahului dugaaan-dugaan yang bisa jadi salah.  Memiliki empati minimal bisa membantu untuk mengontrol ego diri sendiri.

Menghargai Orang Lain

Kalau belum bisa menghargai orang lain minimal belajarlah.  Belajar memahami bahwa orang lain itu berharga.  Bahwa setiap orang itu memiliki keunikan dan kelebihan masing-masing.  Belajar menghargai perbedaan pendapat.  Bukan kamu saja yang punya hak untuk berbicara.  Belajarlah mendengar.  Dengarkan juga pendapat orang lain karena bukan pendapatmu saja yang perlu didengar.  Tidak peduli selevel atau tidak tetapi setiap orang memiliki hak dan kewajiban yang sama.

Bersyukur

Selalu ingat bahwa rasa syukur dan hidup doa adalah suatu bentuk relasi yang spesial antara manusia dengan Tuhannya.  Tidak perlu diumbar dan dipamer-pamerkan secara vulgar.  Cukup hanya aku dan Dia yang tahu.  Memberi dengan tangan kanan tanpa perlu diketahui tangan kiri.  Bersyukur atas diri sendiri dulu saja.  Tidak perlu menunggu perbandingan dengan mereka yang lebih susah atau lebih kaya baru bisa mensyukuri hidup. Bersyukur  karena masih diberikan kesehatan dan semangat untuk menjadi lebih baik dari hari sebelumnya.

Berdoa

Berdoalah untuk diri sendiri dulu sebelum mendoakan orang lain.  Mohon kekuatan dari Tuhan untuk menjalani hidup yang bisa jadi tidak akan selalu baik-baik saja.  Mohon kekuatan juga untuk bisa mendoakan orang lain yang pernah membuat luka.  Entah doamu didengar Tuhan atau tidak tetaplah berdoa karena doa adalah sahabat sejati yang tidak akan pernah menghianati.  Saat sendiri, saat sepi, saat merasa tidak berarti, tetaplah berdoa karena doa adalah sumber kekuatan yang tidak akan pernah mati.

Semoga  aku, dan banyak orang lain juga, dijauhkan dari segala macam bentuk kesombongan rohani dalam berbagai macam bentuknya.  Semoga setiap bentuk pelayanan yang diberikan, apapun bentuknya, menjadi suatu pembelajaran bahwa semuanya itu bersifat sangat personal, yang hanya perlu diketahui antara aku dan Dia.

Tergeraklah HatiNya Oleh Belas Kasihan

8 Feb 2025

Mrk 6:30

Kemudian rasul-rasul itu kembali berkumpul dengan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan.

Mrk 6:31

Lalu Ia berkata kepada mereka: "Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!" Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makanpun mereka tidak sempat.

Mrk 6:32

Maka berangkatlah mereka untuk mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi.

Mrk 6:33

Tetapi pada waktu mereka bertolak banyak orang melihat mereka dan mengetahui tujuan mereka. Dengan mengambil jalan darat segeralah datang orang dari semua kota ke tempat itu sehingga mendahului mereka.

Mrk 6:34

Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.

===========================================================================

Duluuuu.......ada seseorang yang mempertanyakan mengapa kami, selaku Seksi Kerasulan Keluarga di salah satu paroki, meminta penggantian uang transport untuk beberapa orang yang terlibat dalam memberikan kursus persiapan perkawinan.  Penggantian tersebut kumasukkan dalam proposal, lengkap dengan jumlah dan nama-nama mereka yang akan menerimanya.

๐Ÿ‘ฉ: "Mengapa ada pengajuan uang transport dalam proposal?  Bukankah mempersiapkan KPP adalah bagian dari pelayanan? Harusnya diingat petuah Bapa Uskup bahwa kita itu harus melayani tanpa pamrih.  Kalau begini caranya, mereka yang terlibat dalam pelayanan gereja juga akan meminta hal yang sama.....bla...bla...bla".  

Padahal penggantian yang diajukan tidak lebih dari seratus lima puluh ribu per kepala untuk pembawa materi dan pelaksana dari kalangan awam yang jumlahnya tidak lebih dari empat orang, dan notabene akan bekerja selama dua hari non stop dari jam delapan pagi sampai jam lima sore.

Jadi, dengan bahasa yang menurutku sangat sopan sekali, aku mencoba untuk menjelaskan mengapa begini mengapa begitu kepada ibu itu.

Pertama, Pengajuan dana penggantian transport dalam proposal karena ingin menghindari yang namanya penyalahgunaan keuangan.  Itu sebabnya harus diajukan dalam proposal.  Supaya semuanya menjadi transparan dan jelas. Untuk apa dan kepada siapa dana akan diberikan.  Menurutku lebih tercela lagi seandainya dana yang didapatkan nantinya, ditilep diam-diam, dimark up dan diberi nama lain, tetapi ujung-ujungnya sama: untuk biaya tak terduga dengan alternatif alasan apa saja.

Kedua, Acara KPP diadakan bukan pada hari Minggu.  Tetapi langsung dirapel selama dua hari, yaitu pada hari Jumat dan Sabtu.  Mulai dari jam 08.00 WIB sampai jam 17.00WIB.  Seharian penuh.  Ingat, diadakan pada hari Jumat dan Sabtu.  Itu adalah hari kerja bagi sebagian orang yang notabene masih aktif bekerja, maupun orang yang memang pekerjaannya harus dilakukan dari rumah.  

Kalau pekerja kantoran, otomatis harus mengambil cuti kerja, yang tentu saja akan memotong sebagian gajinya jika tidak masuk kerja pada hari biasa.  Apalagi jika tidak masuk kerja pada  hari Sabtu.  Mau tidak mau harus rela kehilangan uang lembur, yang seharusnya bisa didapatkan seandainya lebih memilih untuk masuk kerja.  Sedang mereka yang memang bekerjanya dari rumah, otomatis akan kehilangan pendapatan pada hari itu karena harus menutup pintu usaha untuk sementara waktu.  Tetapi demi yang namanya pelayanan, mau tidak mau harus rela kehilangan semua itu, supaya program KPP bisa terlaksana.

KPP diadakan setahun tiga atau empat kali.  Jadi dalam satu tahun paling tidak harus ambil cuti selama tiga atau empat kali setiap hari Jumat dan kehilangan uang lembur sebanyak tiga atau empat kali juga setiap hari Sabtu.  Yang pendapatannya didapatkan hanya dari rumah juga demikian halnya. Dan itu semua masih dibilang bukan pelayanan karena mengajukan penggantian uang transport yang besarnya tidak seberapa untuk dua hari lamanya?! (emoticon tersenyum๐Ÿ˜).

Ketiga, Kalau yang non awam saja bisa mendapatkan penggantian uang transport, mengapa pembawa materi yang lain tidak bisa mendapatkan penggantian uang transport?  KPP itu adalah tanggung jawab bersama.  Jadi kalau sebagian pembawa materi diberi mengapa sebagian lagi tidak boleh diberi?  Apakah karena mereka awam jadi harus melayani tanpa pamrih sementara yang non awam harus diberi tali asih?  Aturan dari manakah itu?  Seharusnya kalau sebagian tidak diberi semua yang terlibat juga tidak perlu diberi.  Titik. Itu seharusnya ( I think)!

Keempat, Pembina yang lain melakukan tugas pembinaan program kerja di hari Minggu.  Itu memang hari libur kerja.  Tidak ada yang merasa keberatan karena pembinaan bisa diadakan sepulang misa dan paling lama hanya butuh waktu dua jam lamanya. Bukan seharian penuh, dan bukan di hari kerja.  Kalau paroki mau memberikan apresiasi kepada mereka ya terserah saja.  Tetapi pembinaan penerimaan sakramen-sakramen dan pelaksanaan KPP menurutku adalah dua hal yang berbeda.

Point of viewnya apa?

Jangan pernah menghakimi orang lain dengan berlindung di balik kata PELAYANAN.  Kita tidak pernah tahu seberapa besar pelayanan yang pernah dilakukan masing-masing orang di dalam gereja.  Seberapa besar pengorbanan yang telah diberikan, secara diam-diam maupun terang-terangan, untuk keberlangsungan hidup menggereja.  Seberapa panjang perjalanan iman seseorang, dalam mencurahkan waktu dan tenaga, di dalam kegiatan gereja. Lagipula tidak semua bentuk pelayanan itu harus dipamer-pamerkan dan ditunjuk-tunjukkan supaya semua orang tahu.  Jangan pernah menggunakan ukuran baju kita untuk dipakaikan kepada orang lain, karena belum tentu ukurannya sama.

Betul apa yang disampaikan oleh Bapa Uskup (entah Bapa Uskup yang mana maksudnya).  Melayani memang harus tanpa pamrih.  Melayani memang harus dengan kerelaan dan keikhlasan.  Harus dari hati.  Tetapi melayani juga harus dilakukan dengan penuh sukacita.  Tidak menyimpan uneg-uneg dan nggrundel di belakang.  Bagaimana bisa melayani dari hati dan dengan penuh sukacita kalau totalitas pelayanan yang diberikan tidak pernah diapresiasi? Melayani tanpa pamrih bukan berarti melayani habis-habisan tanpa pikir panjang seperti orang bodoh yang oke-oke saja seandainya disuruh melompat ke dalam jurang.

Belajarlah mengapresiasi orang, yang memang patut untuk diapresiasi.  Kalau hanya gara-gara mendapatkan uang ganti transportasi yang tidak seberapa jumlahnya lalu seseorang dianggap tidak 'sepenuhnya' melayani, lalu bagaimana dengan mereka yang seharusnya memang bertugas melayani tapi kenyataannya tidak betul-betul melayani?  Mengapa harus ada pengkotak-kotakan dalam pelayanan?  Mengapa harus ada sekat-sekat?  Awam dan non awam.  Mengapa yang lain boleh dispesialkan sementara yang lain tidak boleh dianggap istimewa?  Mengapa?

"Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka."

Itu sebabnya,  sebagai seorang pendosa, aku hanya perlu memandang Yesus.  Menurutku, Ia adalah wujud teladan pelayanan yang sesungguhnya.  Tahu waktunya kapan harus melayani, dan tahu waktunya kapan harus mengistirahatkan diri.  Karena bagiku, yang namanya pelayanan, itu adalah melakukan tugas sesuai kapasitasnya sebagai seorang manusia, bukan sebagai seorang malaikat.  Tetap berpijak pada tanah, dan tidak perlu merasa sudah pasti akan masuk surga.  Bagiku, apapun namanya, sadar diri itu tetap penting dan perlu! ๐Ÿ’“

Pentingnya Diam Dalam Hidup Spiritualitasku

28 Jan 2025

Seorang kawan lama yang dulu pernah bersama-sama mengajar katekumen mengajakku untuk bergabung lagi ketika bertemu di gereja. Aku hanya tersenyum dan ketawa-ketawa karena merasa belum siap untuk kembali.  Mencoba menolak dengan bahasa sehalus dan sebaik mungkin, supaya beliaunya senang.  Bagaimanapun juga kami pernah menjadi satu Tim.  Tidak sopan kalau langsung menjawab dengan vulgar.

"Maaf, Pak. Aku masih ingin melanjutkan meditasi!" jawabku sedikit bercanda.

"Meditasi kok suwe tenan," kata si Bapak yang memang dasarnya lucu.

"Nanti ya Pak, kalau sudah sadar tak kabari!" aku menyahut lagi sembari masuk ke dalam gereja.

Iya, sementara ini aku memang memutuskan untuk sejenak diam.  Diam untuk memperbaiki kehidupan spiritualitas pribadi yang menurutku masih amburadul.  Dalam diam aku berharap untuk bisa merenung, mendengarkan, dan kembali terhubung dengan Dia yang kuimani.   Untuk itu, aku sungguh butuh keheningan dengan menjauh dari hingar bingar supaya mampu menemukan arti dari kediaman itu sendiri.  

Jadi, sebenarnya apa manfaat dari diam yang kuharapkan sekarang ini?

1. Diam membantu menciptakan ruang untuk refleksi pribadi

Dalam diam aku berharap bisa mengevaluasi hubunganku dengan Tuhan atas nilai-nilai spiritual yang selama ini kuyakini. Berharap untuk mampu meredakan kebisingan mental dan emosional yang seringkali menjadi pengganggu dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Berharap bisa mengalami ketenangan yang mendamaikan karena terhubung dengan sesuatu yang lebih besar dari diriku sendiri.

2. Diam membantu untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan

Aku berharap keheningan akan membantuku untuk semakin bisa berdoa, bermeditasi, atau menjalani kontemplasi dengan lebih khusyuk. Dengan demikian hati akan menjadi lebih terbuka dalam merasakan kehadiran Tuhan dan mampu mengasah kesadaran akan adanya keajaiban, dalam peristiwa terkecil sekalipun di hidup ini. Datangnya pencerahan, bertambahnya wawasan, inspirasi, dan pikiran yang tenang kuharap bisa menjadikan diriku wadah terbuka bagi kebijaksanaan yang lebih tinggi.

3. Diam membantu mengurangi ego dan meningkatkan kerendahan hati

Dengan diam, aku belajar untuk tidak selalu bereaksi atau membela diri saat mengalami sesuatu yang tidak mengenakkan. Minimal belajar untuk diam dulu.  Tidak buru-buru ngegas. Hal ini sangat membantu dalam merendahkan ego dan membuka hati untuk pertumbuhan spiritual yang lebih baik. Dengan demikian aku belajar untuk semakin mengenali diri sendiri tanpa distraksi dari dunia luar. Kediaman seperti inilah yang kuharapkan bisa membawaku lebih dekat pada inti spiritualitas yang sejati.

4. Diam membantu menciptakan kedamaian dalam hubungan dengan sesama

Keheningan kuharapkan bisa mengajarkan kepadaku untuk tidak tergesa-gesa dalam berbicara atau menanggapi setiap situasi. Hal ini akan membantu menciptakan hubungan yang lebih damai dan harmonis dengan orang lain, yang secara tidak langsung menjadi bagian dari perjalanan spiritual itu sendiri. Diam adalah kesempatan untuk memberi ruang guna menyadari berkah-berkah kecil yang mungkin terlewatkan dalam kesibukan sehari-hari. Ini sekaligus akan memperkuat rasa syukur, yang merupakan inti dari spiritualitas itu sendiri.

5.  Diam membantu menguatkan praktik meditasi dan kontemplasi

Meditasi sering dimulai dengan diam. Dalam keheningan, seseorang bisa lebih fokus, hadir, dan terhubung dengan dimensi spiritual yang mendalam. Keheningan membantu menjauhkan diri dari gangguan duniawi, seperti suara bising, media, atau percakapan yang tidak perlu. Ini membantu supaya bisa lebih fokus pada hal-hal bermakna dalam hidup, sekaligus mengingatkan akan keagungan ciptaan Tuhan.

6. Diam membantu membangun ketahanan spiritual

Keheningan membantu melatih diri guna menghadapi tekanan atau ujian hidup dengan sabar dan tenang. Dengan demikian spiritual akan bertumbuh lebih kuat dalam iman. Diam dalam spiritualitas bukan sekadar berhenti berbicara, tetapi juga tentang menciptakan ruang bagi Tuhan, refleksi diri, dan kedamaian jiwa. Dengan demikian keheningan akan menjadi tempat yang tepat untuk menemukan kekuatan, kedamaian, dan kehadiran yang membawa kehidupan spiritual menjadi lebih bermakna. 

Jadi, itulah alasan yang pasti mengapa aku menolak jika ada yang mengajakku untuk begini atau begitu, berkaitan dengan kegiatan keagamaanku sekarang ini.  Bukannya sombong atau congkak hati.  Hanya saja saat ini, aku hanya ingin fokus memperbaiki diriku sendiri.๐Ÿ’“

#Godbless

Lord Have Mercy On Me (2)

24 Okt 2024

Foto diambil dari Pexel

 

Yang paling membosankan kalau mengikuti pertemuan doa di lingkungan dengan menggunakan tema atau materi yang sudah ditentukan itu adalah cara penyampaiannya yang bertele-tele.  Meskipun sebenarnya bisa dibikin singkat tapi seringkali malah dipanjang-panjangkan biar kesannya terasa lama.  Normalnya doa lingkungan atau doa komunitas yang ideal itu menurutku ya satu setengah jam.  Dua jam itu sudah terlalu lama.  Apalagi sampai tiga setengah jam.  Itu namanya lama banget.

Di Batam doa kumunitas atau lingkungan biasanya diadakan setiap hari Rabu, dimulai antara jam tujuh atau jam delapan malam.  Alasannya karena menyesuaikan dengan kondisi umat yang mayoritas adalah pekerja.  Banyak di antara mereka yang jam enam atau tujuh malam baru keluar dari kantor atau perusahaan.  Kalau doa lingkungan di mulai jam delapan malam minimal mereka masih bisa mengejar waktu untuk bisa berkumpul bersama saudara seiman.

Yang jadi masalah itu kalau doa lingkungan yang seharusnya bisa dibikin cepat ringkas dan padat malah dibawakan dengan panjang lebar dan bertele-tele kemana-mana.  Umat yang ikut doa sepulang kerja bukannya tambah segar malah jadi tambah ngantuk.  Capeknya sungguh sangat terasa.  Awalnya ingin mendapat 'pencerahan' dalam pertemuan yang ada malah dapat zonk semata.  Masuk telinga kanan keluar telinga kiri.  Berharap pertemuan cepat selesai!

Foto diambil dari Pexel

Memang tidak semua lingkungan atau komunitas mengalami hal seperti itu.  Tapi tidak menutup kemungkinan ada paroki yang komunitasnya memang seperti itu.  Seharusnya setiap pemimpin dalam pertemuan doa komunitas bisa bersikap fleksibel dalam melakukan tugasnya.  Harus ingat bahwa umat yang hadir itu sudah bersusah payah untuk meluangkan waktu dalam pertemuan sementara besoknya masih harus bekerja atau sekolah.  Harus ingat bahwa mamak-mamak yang ikut dalam pertemuan sambil menggendong bayi itu kebanyakan sudah menguap berkali-kali sembari berharap doa cepat selesai. 

Tapi mau bagaimana lagi, ye kan?  Ada manusia yang  hobinya memang bicara panjang lebar supaya dilihat orang.  Dengan bicara panjang lebar ia merasa dirinya penting.  Merasa dibutuhkan.  Merasa smart.  Merasa berharga.  Merasa yang lain itu hanya umat yang otaknya biasa-biasa saja.  Jadi semakin lama pertemuan akan semakin puaslah mereka.  Intinya itu kalau segala sesuatu itu bisa dipanjang-panjangkan waktunya mengapa harus disingkat-singkatkan begitulah kira-kira.  

Foto diambil dari Pexel

Jadi itulah salah satu alasanku mengapa kadang bolong-bolong ikut pertemuan.  Baru membayangkan saja sudah mager.   Males Gerak!  Kalau doa mulai jam tujuh tiga puluh malam nanti baru bisa pulang jam sepuluh tiga puluh malam.  Tiga jam!  Coba bayangkan, tiga jam! Kalau mulainya jam delapan malam malah bisa pulang jam sebelas malam.  Lagi-lagi tiga jam.  Biasanya sampai rumah langsung terkapar.  Alamat besoknya bangun kesiangan.  Aku sih bisa tidur lagi setelah tidak bekerja.  Tetapi Pak DjokoWi selalu pontang-panting karena harus berangkat kerja jam enam pagi.

Semoga para pemimpin dalam pertemuan doa komunitas mendapatkan pencerahan dari Roh Kudus supaya bisa mengurangi nafsu 'bicara'nya yang sering kemana-mana. Bicaralah seperlunya sesuai dengan kapasitas yang seharusnya.  Kalau materi atau temanya tentang A ya fokus saja bicara tentang A.  Jangan nambah-nambahin sendiri menjadi A plus atau A minus.  Ingatlah bahwa besoknya ada banyak anggota yang harus pergi bekerja.  Semoga para pemimpin mendapat pencerahan untuk bisa melayani tanpa pamrih.  Dan semoga aku bisa menjadi umat yang tidak mageran lagi.  Amin.

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS